HOT

12/recent/ticker-posts

PENGANTAR: MANIFESTO BUKU PUISI MIMPI - FOLKLORIK RENDAMAN ARWAH


Oleh: Husni Hamisi

Saya tak tahu, persis kapan bahasa ini tumbuh dalam diri saya, mungkin pertama kali di masa kecilku, mendengar sekilas, lalu tak sengaja merapal mantra tua dari almarhum papa di kampung, puluhan tahun lalu, saat malam turun  dan lampu minyak strongkeng mulai berkedip, intensitas nyalanya mulai pelan pelan melemah, harus dipancing dengan mengompanya lagi, saat ritmis tangan papa melakukan itu, ada suara-suara ritmis yang selalu hidup dalam ingatanku, papa kadang menyelinginya dengan syair atau mantra tua yang dilagukan.
Doremi faso lasido :  Datang penyasal  dengan percuma / hendak berbakti tiada berguna / jika boleh balik ke dunia / hendak bersujud sepanjang umurnya / .... Dst, dalam bahasa Ternate.

Setiap penyair, siapa pun dan dimana pun, sadar atau tidak, sedang berjalan menuju bahasanya sendiri. Bahasa yang tidak ingin dipinjam dari siapa pun,  bahasa yang tumbuh dari jiwa, mimpi, dan luka yang mengendap lama di dalam tubuhnya.

Dalam kasusku, setelah sekian puluh tahun menulis puisi. Untuk sementara, saya menyebut bahasa dalam bukuku ini sebagai bahasa puisi mimpi folklorik. Sebuah wilayah tempat mitos dan mimpi bertemu, tempat logika dan nalar berhenti di ambang kesunyian, dan yang berbicara hanyalah seperti getaran-getaran roh. Meskipun, saya sendiri belum sepenuhnya yakin, apakah istilah itu cukup menampung apa yang terjadi di dalamnya.

Puisi-puisiku ini tidak lahir dari keinginan untuk berbeda, tetapi dari kesadaran bahwa dunia modern kadang telah sering kehilangan cara untuk berbicara dengan yang halus, yang gaib, dan yang diam.

Bahwa di balik setiap kemajuan dan waktu yang berlari, ada arwah yang tidak tenang.

***

Mimpi

Sebelum manusia belajar menulis, ia bermimpi.
Dalam mimpi, segala batas menjadi cair, waktu bisa menunduk, batu bisa menua, laut bisa bersuara.

Mimpi adalah bahasa yang diturunkan dari kesadaran kolektif manusia, tempat semua makna berkumpul tanpa tata bahasa, tanpa hierarki, tanpa rasionalitas.

Maka, dalam buku puisi mimpi-folklorik ini, mimpi bukan sekadar simbol-simbol psikologis.

Ia adalah ruang spiritual yang memungkinkan realitas sosial, sejarah, dan kosmologi berbicara lewat peristiwa-peristiwa ganjil. Tentang
ikan berzikir, batu bersedih, atau gunung menjadi saksi atas dosa peradaban.

Saya pernah terbangun dengan perasaan bersalah pada sebuah batu dalam mimpi, dan perasaan itu bertahan hingga siang hari, apakah kau pernah mengalami mimpi seperti itu?, kawan.

***

Folklore

Folklore adalah seperti aliran darah yang tetap mengalir di bawah kulit sebuah bangsa ataukah peradaban.

Ia tidak hidup hanya di buku pelajaran, melainkan di ingatan kolektif yang terus berdenyut di tubuh masyarakat, baik yang masih eksis ataukah yang telah membeku dalam sejarah.

Dalam folklore, segala sesuatu masih punya jiwa,
hutan punya nama, laut punya nyawa, hal seremeh apapun bisa berbicara dan setiap tempat memiliki penunggunya sendiri.

Buku puisi mimpi-folklorik ini menjadikan folklore bukan hanya sebagai museum nostalgia, tetapi ruang politik spiritual yang menyingkap luka kolonialisme, perampasan ekologis, dan kegelisahan manusia modern yang kadang kehilangan tanah air dalam batinnya.

Ia bukan sekadar memotret legenda, melainkan menyambung kembali urat nadi antara manusia dan roh-roh leluhur dari segala semesta, nenek moyang, ataukah berupa angin, air dan pohon.

Kadang saya merasa floklore bukan sekedar warisan, tapi sesuatu yang diam-diam mengawasi kita. Tanpa perlu berbicara dalam bahasa manusia.

Sebab, kadangkala bau tanah basah di kampung saya, atau mungkin juga di kampungmu, selalu terasa seperti bau nafas leluhur yang pelan-pelan kembali sekalipun mereka telah lama tidur dalam kedalamanan tanah.

***

Estetika Luka

Saya tidak percaya pada keindahan yang steril atau begitu-begitu saja, Keindahan sejati justru lahir dari luka, dari hal-hal yang tidak selesai.

Dalam judul puisi “Anak-anak Danau Sentani,” “Anak-Anak Batu Karang,” ataukah “Batu Badaon,”, dan lain-lain, saya menulis bukan untuk menenteramkan, tapi untuk mengingatkan.

Dan tentunya, Bahasa saya dalam puisi mimpi-folklorik tidak selalu rapi. Saya akui itu. Ia bisa retak, bisa berliku, bisa mengabur seperti ingatan manusia terhadap masa lalu. Namun justru di celah keretakan itulah suara roh bisa lewat dan tersenyum kepada kita.

***

Penyair sebagai Medium

Saya tidak menganggap diriku pencipta.

Saya hanya medium saja, juga kalian, atau kita. Yang menulis bukan hanya saya, tetapi juga perahu yang gelisah, batu yang menua, dan arwah yang belum sempat berpamitan kepada keturunannya yang belum terlahir.

Tugas penyair adalah mendengar.

Dan mendengar, bagi puisi mimpi-folklorik, bukan hanya tindakan estetis saja, melainkan tindakan spiritual. Sebab selalu ada kata-kata yang tidak ingin dimengerti, hanya ingin didengarkan.

Kita hidup di zaman ketika keheningan telah menjadi barang langka, kawan. Di tengah laju teknologi dan kapitalisme global, puisi mimpi-folklorik saya ini hadir bukan sebagai pelarian, melainkan perlawanan terhadap keterputusan manusia dari akar kesadarannya sendiri.

Memilih menolak untuk tunduk pada tren literer atau bahasa pasar. Ia menuntut pembaca untuk masuk ke dalamnya, untuk ikut bermimpi, di dalam mimpi untuk menemukan wajah sendiri yang telah lama hilang.

***

Bagi puisi-puisi mimpi-folklorik, setiap puisi yang ada adalah seperti upacara kecil, sebuah ritual penyelamatan agar dunia yang retak ini tidak sepenuhnya hancur. Ia mencoba mengembalikan roh ke dalam bahasa, atau mungkin sebaliknya, saya juga tak tahu pasti.

Saya tak tahu apakah puisi dapat menyelamatkan apa pun. Tapi setidaknya, ketika doa terasa jauh,  saya masih bisa menulis. Dan mungkin itu cara terakhir saya, untuk tidak sepenuhnya kehilangan arah.

Makassar,
di Bulan Puasa, 2026