BIRKATV NEWS | Makassar – Data terbaru Kementerian Kesehatan mengungkap kondisi mengkhawatirkan terkait kesehatan mental anak di Indonesia. Berdasarkan hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Maret 2026, ratusan ribu anak terdeteksi mengalami gejala depresi dan kecemasan.
Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 363.326 anak (4,8 persen) terindikasi mengalami gejala depresi, sementara 338.316 anak (4,4 persen) mengalami gejala kecemasan. Kelompok usia 11 hingga 17 tahun tercatat menjadi yang paling rentan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa tren ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Terjadi peningkatan anak yang memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup hingga 1,6 kali lipat, ini menjadi alarm serius bagi kita semua,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Kondisi ini mendorong pemerintah mengambil langkah strategis dengan melibatkan lintas sektor. Pada 5 Maret 2026, sembilan kementerian menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang terintegrasi, mulai dari pencegahan hingga pengobatan.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat perlindungan anak di ruang digital melalui kebijakan baru yang berlaku sejak 28 Maret 2026. Regulasi tersebut bertujuan menciptakan ruang aman dari perundungan siber serta tekanan sosial yang dapat memicu gangguan mental pada anak.
Para ahli menilai bahwa krisis ini tidak bisa ditangani secara parsial. Sekolah diharapkan menyediakan layanan konseling yang lebih aktif, sementara orang tua didorong membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman di lingkungan keluarga.
Lonjakan kasus ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak telah menjadi isu mendesak yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah.
Jika tidak ditangani secara komprehensif, kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas generasi masa depan Indonesia. (ANA)
