BIRKATV NEWS | Makassar — Film terbaru Joko Anwar, Ghost in the Cell, langsung menunjukkan taringnya sejak hari pertama penayangan pada 16 April 2026. Tak butuh waktu lama, film ini menembus lebih dari 1 juta penonton di Indonesia—angka yang menegaskan magnet kuat nama besar sang sutradara di genre horor.
Namun, daya tarik film ini bukan semata pada angka.
Berlatar di dalam lembaga pemasyarakatan, Ghost in the Cell menghadirkan situasi yang tidak biasa: narapidana dan sipir yang selama ini berada di dua kutub berlawanan, dipaksa berdiri di sisi yang sama saat teror misterius mulai memangsa satu per satu penghuni penjara. Rasa curiga, ketakutan, dan insting bertahan hidup bercampur dalam ruang sempit yang menekan.
Sejak menit awal, Joko Anwar tidak memberi banyak ruang bernapas. Lorong-lorong gelap, sel yang pengap, hingga suara-suara asing yang muncul tanpa sumber, membangun ketegangan yang terasa “dekat” dan mengganggu. Horornya tidak bermain aman—beberapa adegan bahkan tampil cukup brutal dan tak terduga.
Menariknya, di tengah atmosfer yang mencekam, film ini justru sesekali menyelipkan komedi gelap. Bukan jenis humor yang memecah ketegangan sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat penonton menarik napas—sebelum kembali dihantam rasa tidak nyaman di adegan berikutnya.
Di sinilah Ghost in the Cell terasa berbeda. Ia tidak hanya menjual rasa takut, tetapi juga menyentil realitas sosial dengan cara yang halus namun terasa. Ada kritik, ada ironi, meski tidak disampaikan secara gamblang.
Bagi penonton yang mengharapkan horor “aman” dengan pola yang mudah ditebak, film ini mungkin terasa tidak biasa. Tapi justru di situlah kekuatannya—berani keluar dari pakem.
Ghost in the Cell bukan sekadar film horor untuk ditonton, tapi pengalaman yang membuat penonton tetap berpikir bahkan setelah lampu bioskop kembali menyala. (IM)
