Oleh Husni Hamisi
Angin yang berdesir dari danau Matano
Sebuah kajian sastra terhadap kelong / nyanyian magis kuno dalam bahasa Bugis.
Syair-syair " Inninawa Sabbara'e " dipercaya sebagai warisan syair yang kemudian dinyanyikan, menjadi budaya yang diwariskan semenjak zaman kuno di daratan Bugis jauh sebelum Indonesia ada. Kadang dikidungkan oleh ibu-ibu yang menidurkan anak-anaknya di buaian.
Alkisah, pada tahun 1912 Masehi, peneliti menemukan lembaran catatan lontara dalam bambu betung.
(Kebiasaan orang-orang tua zaman dulu, menyimpan catatan lontara yang memuat informasi / ilmu penting yang akan diwariskan dalam wadah bambu yang kemudian disegel. Tindakan ini bertujuan agar bisa awet dari rayap, cuaca, dan waktu. sebab saat itu media untuk menulis dari kertas buatan China atau Eropa masih langka).
Di mana dalam tulisan lontara itu tercatat syair " Inninawa Sabbara'e" dalam tulisan dan bahasa Bugis kuno.
Bait-bait syair ini memiliki ciri khas khusus, seperti yang dimiliki pola penulisan jenis sastra lama yang berkembang di Nusantara, seperti pantun dll., di mana tema dari bait selanjutnya mengambil "jangkar" dari kata / larik terakhir dari bait sebelumnya.
Pemilihan kata yang digunakan memiliki makna yang padat dan luas. (Inilah salah satu ciri khas dari sebuah syair/puisi, di mana pemilihan "kata" selalu memiliki potensi pemaknaan yang bisa tekstual sekaligus kontekstual.)
Kita ambil saja contoh 1, kosakata "Inninawa" ini mengandung arti yang banyak dan luas. Berasal dari kata dasar "nawa-nawa : pikiran/harapan/niat yang dicita-citakan".
Jadi Inninawa dalam makna bahasa Bugis kuno, itu bisa diartikan: sebuah keadaan di mana seseorang yang telah memiliki pikiran atau harapan hati telah tertuju pada ketulusan semata atau telah berada dalam ketulusan hati itu sendiri, yang tanpa pamrih.
Istilah ini lebih ditunjukkan kepada "keadaan jiwa" yang telah / harus diraih seseorang.
Maka saat kata tersebut dipasangkan dengan kata sabbara'e / kesabaran, menjadi Inninawa Sabbara'e.
Ini bermakna "seseorang yang teguh dalam ketulusan pada kesabaran di kehidupannya."
Gimana kawan, sekarang terasa kan "gaung" sesungguhnya dari larik syair pembuka ini?
(BERSAMBUNG)
