HOT

12/recent/ticker-posts

Bagian 2: Bait Pertama dan “Deceng” — Jalan Kebaikan dalam Inninawa Sabbara'e

Oleh Husni Hamisi

( Bait 1 )

Inninawa Sabbara'e

Inninawa Sabbara'e

lolongeng gare deceng

alla to sabbara 'ede

Mari kita lihat pemilihan kata "deceng" untuk mempersonifikasi soal baik.

Dalam kosakata bahasa Bugis kuno untuk menunjukkan baik/kebaikan (seperti bahasa Jawa dll.), setidaknya yang saya ketahui, memiliki 3 kata, ada Baji, Gello/Bello dan Deceng yang semuanya berarti baik.

Kata "baji" digunakan atau difungsikan dalam menggambarkan konteks kondisi baik secara umum, yang mengandung arti: sehat, lancar atau normal, seperti dalam pemilihan kalimat baji-baji ji (kabar baik) atau bajiki (perbaikilah, kawan).

Kata "Gello/Bello" untuk menggambarkan baik secara visual dan bermuatan eksternal, baik yang mengandung arti: cantik, rupawan, bagus atau indah.

Dalam catatan lontara sastra Bugis, kata ini biasanya untuk mendeskripsikan istana yang masih berfungsi baik dan indah, atau putri raja yang cantik dan mempesona.

Setidaknya baik yang mengandung nilai seni keindahan secara visual.

Sedang kata "deceng" untuk mendeskripsikan baik dalam makna spiritual dan sifat eksklusivitas internal manusia, yang dimiliki manusia yang nilainya lebih dari makhluk ciptaan Allah SWT yang lain.

Sederhananya begini,

Dalam surat At-Tin, disebutkan, "Telah kami ciptakan manusia fi ahsani / sebaik-baiknya taqwiim,..".

"Tau madeceng" (orang baik) itu menggambarkan ayat ini.

Maka penggunaan kata "Deceng" itu adalah bermakna "baik/kebaikan" yang memiliki bobot mendatangkan keberuntungan, keberkahan dan keselamatan.

Hingga jika diartikan utuh bait pertama syair di atas, akan memperoleh gambaran utuh yang bersifat ruhaniyah.

" Inninawa Sabbara'e "

Seseorang yang hatinya teguh dalam ketulusan pada kesabaran di kehidupannya

" lolongeng gare deceng"

kelak akan didatangi/memetik hasil kebaikan berupa keberkahan, keberuntungan dan keselamatan

" Alla to sabbara 'ede "

sesungguhnya (janji Tuhan berlaku) menjadi bagian yang diperuntukkan bagi mereka yang sabar.

Inilah makna yang terkandung dalam satu bait yang lengkap, ini begitu luar biasa.

Itulah mengapa sebelum panjang kita bahas ke syair berikutnya, ingin saya katakan lagi bahwa syair-syair Inninawa Sabbara'e, dahulunya dinyanyikan dalam kondisi-kondisi tertentu.

Saat seorang guru memberi kepada muridnya di malam gulita dengan temaram nyala kandil yang dibuai angin, ataukah saat seorang ibu ingin mewariskan harapan spiritual kepada anaknya, hingga kelak saat anaknya dewasa, bisa mewarisi kandungan makna yang dimuat syair-syair ini.

Syair-syair yang memiliki bobot yang sama yang diciptakan Walisongo dan penyiar Islam di tanah Jawa untuk dikidungkan di malam hari.

Saya masih ingat di akhir tahun 90-an, di daerah Tamalanrea dekat kampus Unhas, beberapa sastrawan besar Sulawesi Selatan, seperti Aan Mansyur, Nurhadi S., Wahyu Nurba, Jimpe dll., sering berkumpul dalam wadah yang mereka sebut "Inninawa".

Saya sering datang ke sana saat itu, dan ikut menikmati kajian sastra sambil menikmati pisang goreng yang dibeli dari hasil kumpul uang receh bersama.


(BERSAMBUNG)