Oleh Husni Hamisi
(Bait 2)
Pitu taunna' sabbara'
pitu taunna' sabbara'
tengginengka ulolongeng
alla riasenge deceng
Bait kedua ini, adalah (menurut saya) seperti ungkapan rintihan lebih jauh seorang (murid) kepada (gurunya) yang menyampaikan rahasia "sabar" di bait pertama.
pitu taunna' sabbara' : (tujuh) tahun dalam mengasah kesabaran ini.
tennginengka ulolongeng / alla riasenge deceng : tak kunjung jua kutemukan, (rahasia) yang dikatakan (puncak) kebaikan itu.
Saya pribadi sangat terkejut, kawan, dan sempat larut dan merenung lama dalam 1 larik ini.
Tentang larik yang luar biasa "Pitu taunna sabbara", pemilihan kata oleh pengarangnya untuk menggunakan angka 7 dipadankan dengan tahun (proses waktu) yang dikaitkan dengan "kesabaran".
Pengarang syair ini siapa pun dia, pastilah seorang "guru" yang luar biasa.
Dalam terminologi spiritualitas agama Islam, angka simbolik 7 itu menggambarkan siklus kesempurnaan.
Coba lihat dalam ritual tawaf yang mesti memutar ka'bah 7 kali, melakukan sa'i antara Safa dan Marwa sebanyak 7 kali, sebuah ibadah ritual yang di dalamnya ada proses yang menggunakan ruang dan waktu.
Hebatnya angka 7 yang digunakan oleh pengarang syair Inninawa Sabbara'e di atas saat dikaitkan dengan "kesabaran", saya menemukan rahasia lain yang tersembunyi di lautan maknanya.
Pada titik ini, pembacaan kita tidak lagi berhenti pada sastra, tetapi memasuki wilayah spiritual.
Mari kita bedah!
Dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Kahfi, ada dialog luar biasa yang diabdikan Allah SWT antara Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS tentang kesabaran.
Dan di sinilah sudut pandang yang membuat saya tercekat.
Sebelum itu ingin saya selipkan informasi, bahwa Nabi Khidir AS, di Sulawesi Selatan itu adalah sosok yang memiliki "tempat khusus" di hati para spiritualis orang Bugis Makassar.
Sebabnya ada, telah menjadi rahasia umum bahwa ulama sufi besar yang lahir di Sulawesi Selatan di abad 17 Masehi kemudian menjadi mufti Kerajaan Banten yang ikut berperang bersama Sultan Ageng Tirtayasa melawan Belanda lalu menghabiskan sisa usianya sebagai penyebar Islam di benua Afrika Selatan.
Yang kami cintai, Syekh Yusuf Tajul Khalwatiyah yang digelari Tuanta Salama, yang ajaran thariqatnya menjadi nadi dan suluh utama para bangsawan dan segenap ulama Bugis Makassar yang menekuni jalan tasawwuf sejak masa lalu mempercayai, bahwa beliau Tuanta Salama itu adalah anak dari Nabiyullah Khidir AS dengan istrinya yang bangsawan Gowa.
Anda boleh tidak percaya, dan itu sah-sah saja, karena percaya tidak percaya itu bukan sesuatu yang harus kita paksakan, bukan?, hehe.
Mari kita lanjut, saya adalah seorang penyair yang mengikuti cara Mbah Nun (Cak Nun) yang suka "mengeksploitasi" Al-Qur’an.
Jika kita menghitung jumlah kemunculan kata yang menggunakan akar kata "sabar" khusus di dalam rangkaian dialog dan interaksi langsung antara Nabi Khidir dan Nabi Musa alaihimassalam di surat Al-Kahfi, totalnya memang ada 7 kali.
Ayat 67: ...an tashbira (sabar - kata kerja), Khidir AS berkata: "Kamu tidak akan sanggup sabar."
Ayat 68: ...tashbiru (bersabar - kata kerja), Khidir AS: "Bagaimana kamu bisa bersabar..."
Ayat 69: ...shaabiran (orang yang sabar - kata benda pelaku), Musa AS berkata: "Engkau akan mendapati aku orang yang sabar."
Ayat 72: ...tashbira (sabar - kata kerja), Khidir AS: "Bukankah sudah kukatakan kamu takkan sanggup sabar."
Ayat 75: ...tashbira (sabar - kata kerja), Khidir AS: (mengulang teguran yang sama).
Ayat 78: ...tashbir (sabar - kata kerja), Khidir AS: "Sesuatu yang kamu tidak mampu sabar terhadapnya."
Ayat 82: ...tashbir (sabar - kata kerja), Khidir AS (penutup): "Itulah penjelasan yang kamu tidak mampu sabar terhadapnya."
Ada 7 maqam / tingkat kesabaran, yang membutuhkan waktu dan usaha dalam prosesnya melaluinya.
Ada 7 lubang di kepala pada manusia (2 pasang mata, 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, dan 1 mulut) yang harus disucikan dosa-dosanya saat berwudhu untuk sholat, karena ke-7 lubang itulah adalah pintu masuk dari perbuatan dosa.
Dan itu membutuhkan komitmen dalam kesabaran.
Ada 7 lataif / tempat cakra pada diri manusia yang mesti disucikan dengan Zikrullah, di mana di sana bersarang sifat-sifat tak terpuji, seperti syirik, riya, ujub dll.
Dan itu membutuhkan komitmen dalam kesabaran.
Ini adalah formula dari guru-guru yang mewarisi ajaran Syekh Yusuf Tajul Khalwatiyah RA di Sulawesi Selatan yang saat beliau hidup dahulu kala adalah ulama pejuang sekaligus merupakan Mursyid Thariqah Qadiriyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah dll.
Pitu taunna 'sabbara..
Telah 7 lintasan maqam
di ruang dan waktu
daku menempa kesabaran ini,
Namun belumlah jua daku
bertemu hakekat pemilik kebaikan
Bersambung...
Mei 2026
....
Tulisan ini dipersembahkan sebagai bentuk terima kasih kepada La Pattiware Daeng Parabbung (Petta Ware) raja Islam pertama dari Kerajaan Luwu, yang mana dengan asbab masuk Islam-nya beliau dan usahanya di saat itu bersama Dato Pattimmang radhiallahu anhum, syiar Islam menjadi berkah bagi anak cucu rakyatnya di Luwu, buat braderku Tajul Khaidir sekeluarga di Sorowako, Bang Ady Asriadi ketua pemerhati pusaka Luwu (POMPESSI Luwu) dan Opu Iqbal Amri atas diskusi indahnya sambil menikmati sepoi angin dari danau Matano, juga pada istriku Yani Anwar yang darah ayahnya bersambung ke leluhur bangsawan raja-raja Kerajaan Luwu masa lampau.
