HOT

12/recent/ticker-posts

Rammang-Rammang Maros: Potongan Surga Tersembunyi di Negeri Karst Sulawesi

BIRKATV NEWS | Rammang-rammang - Perjalanan penulis kali ini ditemani empat orang dengan latar belakang puluhan tahun di dunia seismik darat dan laut, sebuah bidang yang terbiasa membaca jejak bumi melalui data dan gelombang.

Kali ini, bumi coba dibaca dengan cara yang berbeda, bukan melalui rekaman bawah permukaan, tetapi dengan menyaksikan langsung mahakarya alam berupa struktur karst Rammang-Rammang. Bukan membawa nama institusi mana pun, hanya membawa rasa ingin tahu, kekaguman, dan ketertarikan pada cerita geologi yang tersimpan di balik dinding-dinding batu purba ini.

Rammang-Rammang sendiri merupakan bagian dari kawasan Geopark Maros-Pangkep, sebuah kawasan yang dikenal dengan bentang alam karst menara (tower karst) yang unik. Gugusan batu gamping yang menjulang di antara hamparan sawah dan aliran sungai menjadi hasil dari proses alam yang berlangsung sangat panjang, terbentuk melalui proses pelarutan batuan kapur oleh air selama jutaan tahun.

Bagi yang terbiasa melihat bumi melalui data dan interpretasi bawah permukaan, melihat langsung bentang karst seperti ini memberikan perspektif yang berbeda. Dinding-dinding batu yang terlihat sederhana dari kejauhan ternyata menyimpan cerita geologi yang panjang, mulai dari proses pembentukan batuan, perubahan lingkungan purba, hingga jejak aktivitas alam yang terus berlangsung sampai hari ini.

Oke, cukup dulu membahas sisi ilmiahnya. Mari lanjutkan perjalanan, karena Rammang-Rammang bukan hanya tentang bagaimana ia terbentuk, tetapi juga bagaimana ia dinikmati.

Tiba di Dermaga 1 Rammang-Rammang, Maros sekitar pukul 09.00 pagi menjadi awal perjalanan. Suasana pagi terasa sangat pas karena matahari belum terlalu terik. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari tempat penyewaan topi. Dengan harga Rp10.000 per buah, topi menjadi perlengkapan sederhana yang sangat membantu sebagai pelindung kepala karena perjalanan sebagian besar dilakukan di area terbuka.

Untuk urusan perahu, pengunjung tidak perlu khawatir mencari harga atau takut berbeda tarif. Sistem penyewaan perahu di Rammang-Rammang sudah tertata dengan baik dan tarif pulang-pergi sudah ditentukan. Untuk kapasitas 1–4 orang tarifnya Rp200.000, 5–8 orang Rp250.000, dan 9–12 orang Rp300.000.

Perahu yang tersedia juga cukup banyak dengan kapasitas bervariasi hingga 12 orang. Bagi yang datang bersama rombongan, menggunakan satu perahu akan terasa lebih nyaman, sementara yang datang sendiri atau berdua tetap bisa berbagi perjalanan mengikuti tarif yang sudah ditentukan.

Perjalanan dari Dermaga 1 menuju Dermaga 3 atau pintu masuk Desa Berua menjadi salah satu bagian paling berkesan. Sepanjang perjalanan menggunakan perahu, pemandangan khas Rammang-Rammang langsung tersaji: gugusan pegunungan karst yang megah, aliran air yang tenang, serta hutan bakau yang menghiasi jalur perjalanan.

Melihat langsung formasi karst ini menjadi pengalaman tersendiri. Bukit-bukit batu gamping yang berdiri tegak di tengah dataran terlihat seperti monumen alami yang dibentuk oleh waktu. Setiap lekukan dan bentuk batu memiliki cerita panjang tentang bagaimana alam bekerja perlahan selama jutaan tahun.

Sesampainya di Dermaga 3 atau gerbang Desa Berua, pengunjung akan melewati loket tiket masuk. Tarifnya sudah jelas dan resmi, wisatawan domestik hanya Rp7.000 per orang dan wisatawan mancanegara Rp15.000 per orang. Harga yang transparan membuat perjalanan terasa lebih nyaman karena semuanya sudah diatur dengan baik.

Memasuki Desa Berua, suasana langsung berubah. Hamparan sawah luas terbentang dengan latar belakang pegunungan karst yang menjadi ciri khas kawasan ini. Ada danau yang tenang, pemandangan alam yang luar biasa, serta suasana pedesaan yang membuat siapa pun seakan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Salah satu objek menarik yang bisa dikunjungi adalah Gua Kingkong, sebuah formasi batuan karst dengan bentuk unik. Dari sudut tertentu, susunan batu tersebut terlihat menyerupai wajah Kingkong dan menjadi salah satu spot yang menarik perhatian pengunjung.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan Desa Berua. Jalur kayu papan yang dibuat melintasi area persawahan dan pedesaan menjadi salah satu bagian unik dari perjalanan ini. Jalan sederhana tersebut justru menambah nilai estetika dan membuat suasana semakin berkesan.

Namun tetap perlu berhati-hati karena di beberapa bagian terdapat papan yang berlubang dan masih dalam proses perbaikan.

Jika merasa haus atau lapar selama perjalanan, tidak perlu khawatir karena tersedia beberapa warung di kawasan ini. Salah satu rekomendasi adalah warung yang berada di bawah Gua Berlian.

Setelah menyusuri kawasan tersebut, waktu istirahat menjadi lebih lengkap dengan menikmati kelapa muda, kopi, mi instan rebus, dan pisang goreng khas Sulawesi yang disajikan dengan sambal. Menu sederhana, tetapi terasa istimewa karena dinikmati di tengah suasana alam yang indah. Harganya juga sangat bersahabat, seperti kelapa muda yang hanya sekitar Rp15.000.

Bagi yang hobi mengambil foto dan video, jangan terburu-buru saat berkeliling Rammang-Rammang. Hampir setiap sudut kawasan ini memiliki pemandangan menarik untuk diabadikan. Mulai dari perjalanan perahu, sawah, danau, jalur kayu, hingga latar belakang karst, semuanya memiliki cerita tersendiri.

Kurang lebih 3 jam dihabiskan untuk mengelilingi Desa Berua. Waktu tersebut terasa sangat cepat karena banyak berhenti menikmati pemandangan, mengambil foto, dan menghabiskan waktu cukup lama di warung bawah Gua Berlian.

Saat kembali ke pintu gerbang desa, perahu yang membawa perjalanan sebelumnya masih menunggu untuk mengantar kembali menuju Dermaga 1.

Waktu terbaik untuk datang ke Rammang-Rammang adalah pagi atau sore hari karena siang hari bisa terasa cukup panas. Datang sendiri maupun bersama rombongan sama-sama nyaman karena sistem tarif perahu sudah jelas dan informasi harga tersedia langsung di Dermaga 1.

Kawasan wisata ini terlihat sudah dikelola dengan cukup baik, mulai dari area parkir, sistem penyewaan perahu, hingga tiket masuk Desa Berua yang sangat terjangkau.

Selain menjadi tempat wisata, Rammang-Rammang juga mengingatkan bahwa setiap bentang alam memiliki cerita panjang. Dinding-dinding karst yang terlihat hari ini terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun. Sementara manusia mungkin hanya menghabiskan beberapa jam untuk menikmati keindahannya, sudah sepatutnya perjalanan singkat itu tidak meninggalkan kerusakan pada cerita bumi yang telah terbentuk begitu lama.

Catatan kecilnya, beberapa bagian jalur kayu di Desa Berua masih membutuhkan perbaikan sehingga pengunjung tetap perlu berjalan dengan hati-hati. Namun secara keseluruhan, perjalanan ini memberikan pengalaman yang sulit dilupakan.

Jangan ragu mengambil foto dan video sebanyak-banyaknya, karena setelah pulang nanti mungkin masih merasa kurang menyimpan kenangan dari tempat seindah ini.

Rammang-Rammang selalu punya cara untuk membuat sebuah perjalanan terasa istimewa. Perjalanan ini ditemani Mirza, Ahsan, Sofyan, dan Rudi.


(Penulis: Imran)