BIRKATV NEWS | Budaya dan Sastra – Kerinduan kerap menemukan jalannya sendiri. Ada yang datang melalui sebuah lagu, ada yang hadir lewat aroma, dan ada pula yang kembali setiap kali hujan turun. Dalam puisi "Fragmen Doa dan Hujan", penyair Sultan Musa menghadirkan hujan sebagai ruang pertemuan antara kenangan, doa, dan kehilangan yang tak sepenuhnya mampu dihapus oleh waktu.
Dengan pilihan diksi yang lembut dan penuh permenungan, puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang tetap menyimpan harapan melalui doa, meski yang dirindukan hanya tinggal jejak dalam ingatan. Hujan menjadi saksi bisu atas kesetiaan hati yang terus merawat kenangan tanpa harus mengingkari kenyataan.
Berikut puisi selengkapnya.
Oleh: Sultan Musa
mengusir bayangmu yang menetap
ia nyata bertamu saat hujan turun
terdengar tulus di antara rintik yang riuh
namun fana, seindah pelangi yang sekejap
di sini, dalam dekap sisa hujan
aku masih meramu doa-doa untukmu
tapi, ke mana segala rapalan mesti berlabuh?
sedang aku masih dirundung sungkawa
demi mengabadikan harum kenanganmu
2026
Tentang Penyair
Sultan Musa merupakan penyair asal Samarinda, Kalimantan Timur. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan elektronik, serta sejumlah antologi puisi nasional maupun internasional. Puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, dan Argentina. Namanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017).
Catatan Redaksi
Rubrik Budaya dan Sastra BIRKATV menjadi ruang apresiasi bagi karya sastra yang mengangkat nilai kemanusiaan, budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal. Melalui rubrik ini, BIRKATV berkomitmen menghadirkan karya-karya penyair Indonesia kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya merawat literasi dan kekayaan budaya bangsa.
(REDAKSI BIRKATV / IM)
