HOT

12/recent/ticker-posts

LAUTAN KHIDIR YANG MEMUAT CAHAYA KENABIAN


Oleh Husni Hamisi

Hikayat Tiga Ulama Sufi dari Haramain ke Sulawesi pada Abad ke-19–20 Masehi

Sebuah pembacaan sanad ruhani dari Syeikh Abdurrahim Puang Walli Salemo Qaddasallahu sirrahu, Syeikh Muhammad Thahir Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu, dan Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu.

BAB I — Bagian I

Ketahuilah, ilmu tidak pernah lahir di atas meja. Ia lahir dari perjalanan ruhani hamba-hamba-Nya yang diperjalankan oleh-Nya.

Dalam sebuah perjalanan saya mengendarai kapal kayu penumpang bermesin diesel pada awal Muharam tahun 2026, sembari menikmati sepoi-sepoi angin yang bertiup dari Selat Makassar. Saya berangkat dari Dermaga Paotere menuju Pulau Barranglompo. Sekalipun syal bermotif surban hijau telah saya lingkarkan di leher, tatapan saya jauh menerawang ke ufuk dalam lautan kesadaran. Bukan lagi tentang batas lautan atau langit biru yang dihiasi gumpalan awan.

Tulisan panjang ini bukanlah tentang sejarah yang dibangun oleh para raja atau catatan sejarah yang ditulis oleh para pemenang perang.

Ini adalah hikayat tiga ulama besar Sulawesi Selatan yang saya kisahkan dengan cara saya sendiri. Mereka menapaki jejak langkah di jalan sunyi Sultan para waliyullah pada zamannya, Al-Hajj Abul Mahasin Syeikh Yusuf Tajul Khalwati al-Makassari al-Bantani Qaddasallahu sirrahu.

Hikayat ini berangkat dari selembar kerinduan di atas tikar sembahyang, dari munajat yang dipenuhi air mata harapan, ditemani cahaya lampu minyak pada malam-malam yang panjang. Ia juga lahir dari hikayat lautan yang tak pernah lelah mengantarkan manusia-manusia pilihan menuju Tuhan semesta alam.

Barangkali karena itulah, setiap kali saya menelusuri jejak para ulama di Jazirah Sulawesi, saya selalu merasa sedang membaca peta lautan semangat dan harapan dari seorang Syeikh Yusuf muda yang hidup pada abad ke-17 Masehi.

Bagi para ulama pewaris Syeikh Yusuf Tuanta Salamaka Qaddasallahu sirrahu, lautan bukanlah batas. Lautan adalah Khidir. Lautan adalah jalan raya ruhani untuk sampai ke pelukan Rabb al-Jalalah dan Rasul-Nya, Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sahbihi wa sallam.


***


Di penghujung abad ke-19, ketika kapal-kapal kolonial Belanda mulai memenuhi Nusantara demi memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, ada perahu-perahu layar yang berangkat ke arah sebaliknya. Perjalanan itu ditempuh berbulan-bulan menuju barat, menyusuri arus menuju Haramain.

Perahu-perahu layar itu tidak hanya membawa rempah-rempah, kayu gaharu, sutra, atau hasil bumi Nusantara yang diperdagangkan di Bandar Jeddah, tetapi juga membawa kerinduan. Di antara para penumpangnya terdapat seorang lelaki dari Pangkajene, keturunan bangsawan Gowa. Orang-orang pada kemudian hari mengenalnya sebagai Syeikh Abdurrahim Puang Walli Salemo Qaddasallahu sirrahu, seorang ulama yang menguasai ilmu syariat dan dikaruniai kemuliaan karamah.

Riwayat hidup Puang Walli Qaddasallahu sirrahu tidak banyak tercatat dalam arsip-arsip literasi. Kisah tentang beliau lebih banyak hidup dalam ingatan para murid, diceritakan ketika malam semakin gulita atau saat debur ombak memukul tepian pantai.

Kisah Puang Walli Salemo Qaddasallahu sirrahu tetap hidup dalam warisan doa-doa tolak bala para nelayan di seantero Kepulauan Pangkajene yang masih dibaca hingga hari ini. Ia juga hidup dalam amaliah Khatam Khwajagan yang hingga kini masih menggema di berbagai majelis pada malam-malam tolak bala, serta dalam lirik-lirik hizib yang diwariskan dari lisan orang-orang tua di pulau kepada cucu-cucu mereka sebagai bekal bagi para pencari teripang dan pemburu ikan sunu.

Di Haramain, ketika pengajaran tasawuf masih tumbuh subur di bawah langit Kekhalifahan Turki Utsmani, Syeikh Abdurrahim Puang Walli Salemo Qaddasallahu sirrahu termasuk di antara para salik yang meneguk mata air ilmu zahir dan batin. Kelak, mata air itulah yang menghidupi dan menjadikan sebuah pulau kecil di pesisir Sulawesi sebagai pusat pancaran cahaya ilmu: Pulau Salemo.

Bab-bab fikih dan akhlak dalam manuskrip-manuskrip kitab kuning, juga ilmu suluk dalam tradisi Tariqat Syadziliyah, hidup dalam diri Puang Walli Qaddasallahu sirrahu. Demikian pula amaliah suluk Tariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang pada masa itu berkembang dengan kokoh melalui sanad para khalifah Syeikh Muhammad Khatib al-Sambasi Qaddasallahu sirrahu, ulama besar Nusantara yang wafat pada tahun 1875 dan dikenal sebagai pendiri Tariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Maka tidak mengherankan apabila, pada penghujung abad ke-19, ketika Puang Walli Qaddasallahu sirrahu kembali dan membuka halaqah ilmu, Pulau Salemo kemudian dikenal bukan hanya sebagai tempat mengaji kitab kuning, melainkan juga sebagai pusat amaliah Khatam Khwajagan, zikir, suluk, dan riyadhah kepada Allah.

Pulau Salemo pun menjadi magnet bagi para penuntut ilmu dari generasi ulama yang kelak akan melanjutkan rihlah ke Haramain.

Di sanalah syariat dan hakikat dipelajari di atas tikar rumah panggung yang sama; bertemu dalam hati yang sama, lalu menjelma menjadi akhlak yang sama.


***


Beberapa tahun kemudian, ketika gaung majelis ilmu di Pulau Salemo semakin semerbak, diperbincangkan dari mulut ke mulut para ulama dan panrita lompoa di berbagai kerajaan di Sulawesi, datanglah dari Tanah Mandar seorang pencari ilmu bernama Muhammad Thahir. Kelak, sejarah mengenangnya sebagai Syeikh Muhammad Thahir Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu.

Sebelum layar perahunya mengarah ke Makkah pada tahun 1886, Syeikh Muhammad Thahir Qaddasallahu sirrahu terlebih dahulu singgah di Pulau Salemo untuk bertabarruk kepada para ulama yang bermukim di sana.

Saya membayangkan pertemuan singkat itu: seorang ulama muda yang telah berbaiat dalam Tariqat Syadziliyah kepada gurunya, Allamah Sayyid Alwi bin Sahl Jamalullail Qaddasallahu sirrahu, datang menemui seorang waliyullah yang membuka majelis ilmu di Pulau Salemo.

Mereka tidak banyak memperdebatkan ilmu. Sebab, para arif billah tidak memerlukan banyak kata ataupun pertanyaan. Pada malam hari, mereka duduk dalam majelis ilmu, khusyuk membaca wirid dan amaliah zikir bersama. Mereka membuka satu atau dua halaman kitab sebagai suluh, saling bertukar sanad keilmuan demi mengharap keberkahan dari Allah, lalu berpisah dengan doa-doa keselamatan dan harapan.

Sebab, bekal yang dibawa oleh para penempuh jalan sunyi menuju rida dan cinta Allah haruslah berlimpah. Lautan yang akan mereka arungi jauh lebih luas dan lebih berbahaya daripada yang tampak oleh mata lahir.

Setibanya di Haramain, ketika Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu memandang Ka'bah untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mengalir tanpa dapat ditahan. Segala kelelahan dan kesabaran selama berbulan-bulan meninggalkan kampung halaman seakan lenyap, terbayar oleh untaian bening yang jatuh perlahan.

Beliau mengelilingi Ka'bah sekali, dua kali, tiga kali, lalu terus bertawaf, diiringi suara yang lirih dan bergetar:

Aku menyambut panggilan-Mu, wahai Pemilik hidup dan matiku. Wahai Zat yang tiada bagiku selain Engkau, hanya Engkaulah yang bertahta.

Seiring bergantinya hari dan malam yang dingin bertiup dari puncak-puncak gunung menuju lembah tempat warisan agung Nabi Ibrahim `alaihissalam, beliau berbaur dalam majelis-majelis ilmu. Di sana beliau mengambil talqin zikir dan memperdalam ilmu kepada para ulama besar pada zamannya. Di antara guru beliau ialah Syeikh Alwi bin Ahmad al-Maliki, Syeikh Muhammad al-Ibna, dan Syeikh Hasan al-Yamani Qaddasallahu sirrahum.

Waktu pun berlalu laksana butiran pasir yang diterbangkan angin padang sahara. Setelah mengunjungi Istanbul untuk bertabarruk kepada beberapa syeikh tariqat di sana—kota yang ketika itu menjadi jantung Kekhalifahan Turki Utsmani—beliau kembali ke kampung halaman.

Setibanya di Tanah Mandar, Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu tidak hanya membawa salinan manuskrip kitab-kitab. Beliau juga membawa cara memuliakan manusia dengan kasih sayang, baik kepada sahabat maupun kepada mereka yang belum mengenal Allah.

Maka itulah sebabnya, nama Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu lebih dahulu hidup di hati dan di lisan masyarakat Mandar dengan penuh kecintaan dari generasi ke generasi, daripada di dalam buku-buku sejarah yang ditulis pada hari ini.

— Bersambung ke Bab I — Bagian II —


Tentang Penulis

Husni Hamisi adalah adalah seorang penyair serta pemerhati budaya dan sejarah. Ia telah menerbitkan dua buku puisi, Api, Kita dan Tuhan (2022) dan Rendaman Arwah (2025). Sejak tahun 2011, puisi, esai, dan tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media cetak maupun media daring.


Catatan Redaksi

Naskah ini merupakan bagian dari serial Lautan Khidir yang Memuat Cahaya Kenabian yang diterbitkan secara bersambung oleh BIRKATV.

Tulisan ini menggunakan pendekatan hikayat ruhani, yaitu perpaduan antara fakta sejarah yang dapat ditelusuri, tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat, serta perenungan sastra penulis. Karena itu, beberapa bagian merupakan interpretasi sastra yang bertujuan menghadirkan suasana batin dan nilai-nilai spiritual tanpa mengurangi penghormatan terhadap fakta sejarah dan para tokoh yang dikisahkan.

Redaksi berkomitmen menjaga keaslian gaya bahasa penulis dengan hanya melakukan penyuntingan pada aspek ejaan, tata bahasa, konsistensi istilah, dan tipografi.


Khazanah Istilah

Adab — Tata krama lahir dan batin yang menjadi fondasi dalam menuntut ilmu.

Arif billah — Hamba yang dianugerahi makrifat dan pengenalan mendalam kepada Allah.

Barakah — Limpahan kebaikan yang Allah anugerahkan melalui sebab-sebab yang dikehendaki-Nya.

Halaqah — Majelis atau lingkaran pengajian.

Haramain — Sebutan bagi dua kota suci, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

Karamah — Kemuliaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada para wali-Nya.

Panrita lompoa — Sebutan dalam tradisi Bugis-Makassar untuk ulama atau cendekiawan besar.

Rihlah — Perjalanan, khususnya perjalanan menuntut ilmu.

Salik — Penempuh jalan ruhani menuju Allah.

Sanad — Mata rantai transmisi ilmu yang bersambung dari guru kepada murid.

Tabarruk — Mengharap keberkahan melalui sesuatu yang dimuliakan oleh Allah.

Talqin — Pembimbingan atau pengajaran zikir oleh seorang guru kepada murid.

Tariqat — Jalan pembinaan ruhani di bawah bimbingan seorang mursyid.

Waliyullah — Hamba Allah yang memperoleh kedekatan dan kemuliaan di sisi-Nya.


Bersambung

Bab I — Bagian II akan mengisahkan perjalanan Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu, perkembangan zawiyah Tariqat Idrisiyyah di Haramain, lahirnya Majalah Az-Zikra, serta estafet sanad keilmuan yang menghubungkan Haramain dengan Sulawesi hingga generasi sesudahnya.

(REDAKSI BIRKATV / IM)