HOT

12/recent/ticker-posts

LAUTAN KHIDIR YANG MEMUAT CAHAYA KENABIAN

Bab I — Bagian II

Hikayat Tiga Ulama Sufi dari Haramain ke Sulawesi pada Abad ke-19–20 Masehi
Sebuah Pembacaan Sanad Ruhani dari Syeikh Abdurrahim Puang Walli Salemo Qaddasallahu sirrahu, Syeikh Muhammad Thahir Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu, dan Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu.

TAHUN 1885, pada musim penghujan, lahirlah seorang anak laki-laki dari garis keturunan Petta Kalia Bone, pemangku agama turun-temurun di Kerajaan Bone. Oleh ayahnya yang juga seorang ulama pada zamannya, buah hati yang menjadi bukti doa dan cinta kedua orang tuanya itu diberi nama Ahmad—sebuah nama yang mengandung harapan agar kelak memperoleh syafaat dan keberkahan dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sahbihi wa sallam.

Kelak, sejarah mengenangnya dengan penuh hormat dan takzim sebagai Anregurutta Syeikh KH Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu.

Pada usia lima belas tahun, bersama ayahnya, beliau menempuh jejak perjalanan mengarungi lautan yang sama menuju Haramain. Di sanalah beliau menetap untuk menimba ilmu.

Waktu mengalir laksana cahaya bintang-bintang yang berkilau di langit Masjidil Haram. Selama kurang lebih dua puluh enam tahun, Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu menenggelamkan diri dalam samudra ilmu-Nya, menempa lahir dan batin dalam perjalanan panjang seorang salik.

Pada masa itu, Jabal Abu Qubays di Makkah merupakan salah satu pusat kehidupan ruhani di Haramain. Di sanalah berpusat zawiyah Tariqat Muhammadiyah al-Idrisiyyah, sebuah tariqat yang sanad keilmuannya bersambung kepada Syeikh Ahmad bin Idris al-Fasi Qaddasallahu sirrahu, salah seorang pembaru besar dalam khazanah tasawuf abad ke-19. Dalam tradisi keilmuan tariqat tersebut, beliau diyakini menerima talqin secara yaqazatan langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sahbihi wa sallam serta Nabi Khidir 'alaihissalam.

Pada masa Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu menempuh suluk di Jabal Abu Qubays, mursyid beliau ialah Sayyid Muhammad asy-Syarif al-Idrisi Qaddasallahu sirrahu, salah seorang pewaris mata rantai keilmuan keluarga Idrisi. Atas ilham dari Allah, sang guru kemudian berhijrah hingga menetap dan wafat di wilayah Jazan, dekat Yaman. Hal itu terjadi sebelum berakhirnya pemerintahan Hasyimiyah di Hijaz dan bergantinya kekuasaan pada tahun 1924.

Di Haramain, pada masa-masa yang penuh keberkahan itu, suluk Tariqat Syadziliyah, suluk Tariqat Idrisiyyah, majelis-majelis ilmu hadis, fikih mazhab Syafi'i, tafsir, dan akhlak tumbuh berdampingan. Para ulama rahimahumullah, baik dari Nusantara maupun dari berbagai penjuru dunia Islam, tidak saling meniadakan. Sebaliknya, mereka saling melengkapi dan saling menyempurnakan dalam khidmat kepada ilmu.

Dari lingkungan keilmuan itulah Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu belajar bahwa seorang alim tidak cukup hanya pandai berbicara. Seorang alim harus mampu menghadirkan ketenangan ketika badai menerpa kehidupan umat, menjadi jalan keluar bagi persoalan lahir dan batin, demi mengenal Allah dengan lebih dekat, berhias dengan sifat-sifat yang diridai-Nya, merasakan dan menyalurkan kasih sayang-Nya, hingga akhirnya lebur dalam cinta kepada-Nya.

KETIKA Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu kembali ke Sulawesi pada tahun 1926, beliau pulang bukan hanya membawa ilmu yang dipelajari selama bertahun-tahun di Haramain. Beliau membawa akhlak, keteladanan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sahbihi wa sallam, serta warisan adab para guru yang telah membimbing perjalanan lahir dan batinnya.

Rantai sanad keilmuan yang beliau bawa kemudian menjelma menjadi halaqah-halaqah dan majelis-majelis ilmu. Beliau berkeliling dari masjid-masjid tua di Bone, Makassar, Jeneponto, Bantaeng, hingga Bulukumba, meniupkan semangat keagamaan, membangkitkan kesadaran umat, sekaligus menyalakan api perjuangan yang kelak turut menguatkan semangat kemerdekaan.

Selain berdakwah melalui mimbar dan majelis ilmu, Syeikh Ahmad Bone Qaddasallahu sirrahu juga memprakarsai penerbitan Majalah Az-Zikra. Melalui majalah inilah gagasan, fatwa, dan pemikiran para ulama kharismatik yang pernah berguru di Haramain maupun di majelis ilmu Pulau Salemo dapat menjangkau masyarakat Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, hingga berbagai daerah lain di Nusantara.

Majalah Az-Zikra memuat pembahasan tentang fikih, muamalah, tasawuf, akhlak, serta berbagai persoalan umat yang berkembang pada masanya. Kehadirannya menjadi salah satu media penting yang memperkuat jejaring keilmuan para ulama Nusantara pada awal abad ke-20.

Di sekeliling beliau berhimpun para alim ulama kharismatik yang menjadi dewan pengasuh Majalah Az-Zikra, para ulama yang kelak menjelma menjadi tiang dan soko guru masyarakat di Sulawesi.

Di antara mereka ialah AGH Syeikh Muhammad Thahir Imam Lapeo Qaddasallahu sirrahu, AGH Muhammad Ramli Qaddasallahu sirrahu, AGH Muhammad As'ad Qaddasallahu sirrahu—yang warisan halaqah ilmunya di Wajo kemudian berkembang menjadi Pesantren As'adiyahAGH Muhammad Bilalu Qaddasallahu sirrahu, AGH Nuruddin Daeng Paliweng Qaddasallahu sirrahu, AGH Abdul Gani Qaddasallahu sirrahu, AGH Muhammad Daud Ismail Qaddasallahu sirrahu, AGH Muhammad Abduh Pabbaja Qaddasallahu sirrahu, AGH Muhammad Yunus Martan Belawa Qaddasallahu sirrahu, Sayyid Jamaluddin Puang Ramma Qaddasallahu sirrahu, AGH Ambo Dalle Qaddasallahu sirrahu, serta banyak ulama lainnya, Qaddasallahu sirrahum.

Hari ini, mungkin nama-nama mereka hanya dikenang oleh segelintir orang. Namun, warisan mereka tetap hidup di kampung-kampung, di pulau-pulau terpencil, dalam doa-doa tolak bala, zikir suluk tariqat, lantunan Barzanji, serta syair-syair Imam al-Bushiri yang menggema setiap kali bulan Maulid Nabi tiba.


Bersambung ke Bab I — Bagian III


Tentang Penulis

Husni Hamisi adalah seorang penyair serta pemerhati budaya dan sejarah. Ia telah menerbitkan dua buku puisi, Api, Kita dan Tuhan (2022) dan Rendaman Arwah (2025). Sejak tahun 2011, puisi, esai, dan tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media cetak maupun media daring.


Catatan Redaksi

"Lautan Khidir yang Memuat Cahaya Kenabian" merupakan serial hikayat yang diterbitkan secara bersambung oleh BIRKATV.

Karya ini memadukan penelusuran sejarah, tradisi lisan, manuskrip, dan pendekatan sastra dalam bentuk hikayat ruhani. Penyuntingan dilakukan pada aspek ejaan, tata bahasa, tipografi, dan konsistensi transliterasi, tanpa mengubah substansi maupun gaya bertutur penulis.


Khazanah Istilah

Anregurutta — Gelar kehormatan bagi ulama besar dalam tradisi Bugis-Makassar.

Haramain — Sebutan bagi Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.

Jabal Abu Qubays — Gunung bersejarah di Makkah yang menjadi salah satu pusat kehidupan ruhani dan keilmuan pada masanya.

Majelis Ilmu — Forum pembelajaran agama yang dipimpin oleh seorang ulama atau guru.

Muamalah — Hukum Islam yang mengatur hubungan antarmanusia dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Mursyid — Guru pembimbing dalam perjalanan ruhani seorang salik.

Qaddasallahu sirrahu — Doa penghormatan yang berarti, "Semoga Allah menyucikan rahasianya," disematkan kepada para wali atau tokoh sufi yang telah wafat.

Rahimahumullah — Doa yang berarti, "Semoga Allah merahmati mereka."

Salik — Penempuh jalan spiritual menuju Allah.

Sanad — Mata rantai transmisi ilmu dari guru kepada murid yang bersambung hingga sumbernya.

Suluk — Proses pembinaan ruhani di bawah bimbingan seorang mursyid.

Tariqat — Jalan pembinaan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Yaqazatan — Istilah dalam tasawuf yang merujuk pada pengalaman ruhani dalam keadaan sadar atau terjaga.


(REDAKSI BIRKATV /IM)