BIRKATV NEWS | Budaya dan Sastra – Kuliner tradisional tidak hanya menyajikan cita rasa yang khas, tetapi juga merekam nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tanah Bugis, Nasu Palekko bukan sekadar hidangan berbahan dasar bebek dengan rempah yang kaya, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan, kepedulian, dan kasih sayang yang dikenal dalam falsafah Sipakamase.
Melalui puisi "Setumpuk Nilai Sipakamase dalam Sepinggan Nasu Palekko", Sultan Musa mengangkat makna sebuah hidangan sebagai media yang menyatukan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Di balik setiap suapan, tersimpan pesan tentang pentingnya berbagi, saling peduli, dan mendahulukan niat baik dalam setiap perbuatan. Puisi ini mengingatkan bahwa budaya tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga dalam kebiasaan sederhana yang diwariskan dari dapur ke meja makan.
Berikut puisi selengkapnya.
SETUMPUK NILAI SIPAKAMASE DALAM SEPINGGAN NASU PALEKKO
Ibu mengolah rasa dengan penuh semangat
bukan sekadar bebek dan rempah melayang
tapi rindu yang diam-diam datang menyerang
Nasu palekko, pedasnya menyapa
menyentuh lidah—membangunkan jiwa
bukan rasa yang jadi utama
melainkan tangan yang tulus menyuguhkannya
dalam tiap suapan yang terasa,
Sipakamase menyatu di sana
kasih dalam rupa masakan sederhana,
yang mengikat keluarga dalam satu meja
saat tetangga tak punya beras,
sepinggan palekko ikut dibagi lepas
karena di tanah Bugis yang bernyawa
tak ada kenyang bila masih ada yang terluka
Sipakamase bukan sekadar ujaran
ia bisa saja hidup dalam hidangan dan perhatian
lewat palekko, kita belajar berbagi
bahwa kasih sayang juga bisa hadir dari dapur sendiri
…yang punya setumpuk nilai
paddioloi nia' madeceng ritemmaddupapana sininna gau'e
dahuluilah dengan niat yang baik sebelum
terlaksananya semua perbuatan
2025
Tentang Penyair
Sultan Musa merupakan penyair asal Samarinda, Kalimantan Timur. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan elektronik, serta sejumlah antologi puisi nasional maupun internasional. Puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, dan Argentina. Namanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017).
Catatan Redaksi
Melalui puisi ini, Sultan Musa memperlihatkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Sipakamase, yang berarti saling mengasihi dan saling menyayangi, hadir dalam tindakan sederhana seperti berbagi makanan dan memperhatikan sesama. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya akan tetap hidup selama nilai-nilai luhurnya terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
(REDAKSI BIRKATV / IM)
