HOT

12/recent/ticker-posts

Puisi Sultan Musa Menghidupkan Kembali Makna Sinonggi sebagai Warisan Budaya

BIRKATV NEWS | Budaya dan Sastra – Kuliner tradisional bukan sekadar warisan cita rasa, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, identitas, dan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah Sinonggi, makanan khas masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara yang hingga kini tetap lestari dan dinikmati oleh berbagai kalangan.

Melalui puisi "Sinonggi, Rindu yang Tak Pernah Sirna", penyair Sultan Musa menghadirkan Sinonggi bukan hanya sebagai hidangan berbahan dasar sagu, melainkan sebagai simbol kerinduan terhadap akar budaya dan pesan-pesan luhur yang terus hidup di tengah masyarakat. Setiap bait mengajak pembaca mengenang tradisi, menghargai warisan leluhur, serta memahami bahwa makanan dapat menjadi pengikat persaudaraan dan identitas sebuah daerah.

Berikut puisi selengkapnya.

SINONGGI, RINDU YANG TAK PERNAH SIRNA
Oleh: Sultan Musa
akulah Sinonggi yang kau nikmati
nama yang dibawa paduan sagu dan air panas
bernyawa dalam indahnya adukan
menari dalam sebuah proses
rerantai jalan luhur
yang tak pernah henti
....bagian dari tradisi

akulah Sinonggi syair rindu
telah kau dapati tak pernah pudar
sungguh meringkuk seteduh pesan
mengingatkan binar pelipur
perihal pesan Ina - Mamak

'bisa jadi awalnya bermusuhan
ternyata saling berkawan'

Sinonggi tak pernah sirna
dan tak pernah hilang,
terbalut waktu mendekap tulus
selalu menemukan paduan citarasa
terhubung di ujung hari

2025

Tentang Penyair

Sultan Musa merupakan penyair asal Samarinda, Kalimantan Timur. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan elektronik, serta sejumlah antologi puisi nasional maupun internasional. Puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, dan Argentina. Namanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017). 

Catatan Redaksi

Sinonggi merupakan makanan khas etnik Tolaki di Sulawesi Tenggara yang dibuat dari sari pati sagu. Hidangan ini kini dikenal luas oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dan memiliki kemiripan dengan kapurung di Sulawesi Selatan maupun papeda di Kepulauan Maluku. Kehadirannya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara yang sarat nilai budaya dan kebersamaan.

(REDAKSI BIRKATV / IM)