HOT

12/recent/ticker-posts

Macan Putih dari Tallo: Sebuah Perjalanan Menelusuri Jejak Sejarah hingga ke Ternate

 

Makam almarhum berada di kompleks pemakaman Raja-Raja Tallo, Jalan Sultan Abdullah, Tallo, Makassar.


Yang Mulia bernama I Manginyarrang Daeng Makiyyo Karaeng Kanjilo.

Yang Mulia adalah Raja Tallo yang ke-7, anak sulung yang lahir pada tahun 1569 dari ayahandanya, Raja Tallo ke-6 Sultan Abdullah Awalul Islam Karaeng Matoayya, Raja Tallo pertama yang memeluk Islam, yang proses islamisasinya diinisiasi oleh Syeikh Abdul Ma'mur yang kemudian digelari Dato Ri Bandang.

Dato Ri Bandang adalah seorang ulama dengan misi khusus, murid Kanjeng Sunan Prapen, Sunan Giri III, Gresik. Pada gilirannya, ayahanda Yang Mulia inilah yang kemudian bersama kemenakannya, Raja Gowa Sultan Alauddin, mengislamkan raja dan rakyat Bugis-Makassar.

Ibunda Yang Mulia bernama Daeng Tojeng Karaeng ri Naung, Tuniawanga ri Kalasukunna, putri pertama Raja Gowa ke-12, I Manggorai Daeng Mametta Karaeng Bontolangkasa Tunijalloq ri Biseanna.

Yang Mulia diangkat menjadi Raja Tallo ke-7 ketika ayahandanya Karaeng Matowayya memilih turun takhta pada usia senja. Sang ayah kemudian lebih banyak mencurahkan hidupnya untuk dakwah di Bontoala hingga wafat pada tahun 1636. Ia dikenang dengan gelar Tumalianga ri Agamana—ia yang berpulang di dalam agamanya.

Sementara Yang Mulia memperoleh gelar Sultan Abdul Ja'far Muzaffar.

Makam Sultan Abdullah Awalulislam Karaeng Matoayya bersama permaisurinya berada dalam satu kubah di Kompleks Pemakaman Raja-Raja di Bontobiraeng, Gowa—satu kompleks dengan makam Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang dan Sultan Saaduddin Arung Palakka.

Sebagai Sultan Tallo ke-7, ia mendampingi sepupu satu kalinya, Sultan Alauddin, yang ketika itu masih menjabat sebagai Raja Gowa.

Mengapa sepupu satukali?

Sebab ibu Sultan Alauddin adalah bibi kandungnya—kakak kandung ayahandanya—yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Ratu Kerajaan Tallo ke-4.

Maka di antara kedua kerajaan itu, darah bukan sekadar mengalir sebagai garis keturunan. Darah juga menjadi jalan yang mengikat takhta Gowa dan Tallo dalam satu keluarga.

Yang Mulia Sultan Abdul Ja'far berpulang ke rahmatullah pada bulan Mei tahun 1641 Masehi, ketika kemenakannya, Raja Gowa Sultan Malikussaid, sedang berkuasa.

Adik kandungnya, Karaeng Patingalloang, seorang cendekiawan besar yang namanya kemudian dikenal jauh melampaui zamannya, diangkat menjadi Raja Tallo berikutnya dengan gelar Sultan Mahmud. Ia mendampingi Raja Gowa sebagai Perdana Menteri atau Mangkubumi definitif.

 

***

 

Namun sejarah keluarga ini ternyata tidak berhenti di Tallo.

Pada tahun 1656 Masehi, putri Yang Mulia yang bernama Daeng Nija Karaeng Panaikang dinikahkan dengan seorang pangeran dari Kesultanan Ternate, Pangeran/Kaicil Kalumata.

Wali dalam pernikahan itu adalah Sultan Tallo ke-9, Harun Arrasyid, yang bertindak sebagai pengganti ayahnya yang telah wafat pada tahun 1641 Masehi untuk menikahkan adiknya.

Kalumata bukan pangeran yang hidup jauh dari suara senjata.

Ia adalah seorang pangeran Ternate yang memiliki jejak perang yang panjang—dari medan-medan pertempuran di Maluku Tenggara hingga ke tanah Makassar. Di sana ia berdiri bahu-membahu bersama Sultan Hasanuddin dan Karaeng Karunrung melawan VOC Belanda, sekaligus berhadapan dengan pasukan kakaknya sendiri, Sultan Mandarsyah, yang pada masa itu menjadi sekutu utama VOC dari Maluku.

Maka perkawinan Daeng Nija dengan Kaicil Kalumata mempertemukan dua simpul kerajaan. Gowa–Tallo dan Ternate. Sulawesi Selatan dan Maluku. Darah bangsawan, agama, perang, dan laut.

Dari perkawinan itu lahir seorang anak perempuan—cucu perempuan Yang Mulia Sultan Abdul Ja'far Muzaffar, Raja Tallo ke-7.

Kelak, cucu perempuan itu, Boki Ruze—demikian namanya dalam catatan genealogi buku tembaga Kesultanan Ternate— dinikahkan dengan Pangeran Sibori dari Kesultanan Ternate, yang kemudian naik takhta sebagai Sultan Ternate ke-21 pada tahun 1675 Masehi, menggantikan ayahnya, Sultan Ternate ke-20, Sultan Mandarsyah yang mangkat.

Pangeran Sibori kemudian bergelar Sultan Nurul Islam saat naik takhta.

Dan pada masa pemerintahannya, Ternate kembali mengangkat senjata untuk terakhir kalinya melawan hegemoni VOC Belanda.

Perlawanan itu pada akhirnya dapat dipatahkan.

Ternate kehilangan ruang geraknya dan kemudian berada dalam posisi sebagai vasal VOC.

 

***

 

Maka ketika duduk di hadapan pusara Yang Mulia Sultan Abdul Ja'far Muzaffar, saya merasa sedang duduk di hadapan sebuah tokoh yang menjadi simpul sejarah yang jauh lebih besar daripada sebuah makam. 

Di sini bersemayam seorang putra dari raja besar.

Seorang raja besar. Seorang keturunan raja-raja besar.

Seorang raja sekaligus ulama dari generasi awal ketika Islam sedang tumbuh dan mencari akar di tanah Sulawesi Selatan.

Yang Mulia hidup dalam zaman ketika menjadi raja tidak berarti hanya duduk di atas takhta. Takhta dapat sewaktu-waktu berubah menjadi medan perang. Darah bangsawan dapat berubah menjadi amanah. Dan agama tidak berhenti pada gelar yang disematkan di belakang nama. 

Ayahandanya, Karaeng Matowayya, memilih meninggalkan takhta untuk memperdalam dakwah. Ia sendiri meneruskan kerajaan sambil berdakwah ke Sumbawa, Bima, Timor-Leste, dan beberapa daerah lain di Timur/Tumalianga ri timoro. Adiknya, Karaeng Patingalloang, meneruskan kecendekiaan dan kebijaksanaan yang langka di zaman itu.

Putrinya menyeberangkan darah Tallo ke Ternate. Cucunya kelak masuk ke dalam lingkaran takhta Ternate.

Dan di kemudian hari, darah kebangsawanan yang memancar dari rumah Tallo itu kembali berhadapan dengan sejarah panjang perlawanan terhadap VOC.

Mungkin karena itulah gelar "Macan Putih dari Tallo" terasa tidak sekadar sebagai sebuah gelar.

Ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.

Macan Putih, karena keberanian dan wibawanya sebagai seorang bangsawan yang lahir dari darah para raja—di zaman ketika keberanian seorang raja tidak hanya diuji di balairung, tetapi juga di medan perang. Karena di balik kekuasaan dan darah peperangan itu ada jalan yang lain: jalan dakwah, dan pengabdian kepada Islam yang sedang tumbuh di tanah Sulawesi Selatan.

Beliau adalah raja di antara para raja, bagian dari tokoh generasi awal yang sedang meletakkan batu pertama bagi sebuah peradaban Islam di tanah ini.

Maka pusara ini, bagi saya, bukanlah hanya tempat seorang raja beristirahat.

Ia adalah tempat sebuah keberanian terhenti untuk sementara, sementara jejaknya terus berjalan melalui darah keturunannya, melalui laut, melalui kerajaan-kerajaan, melalui peperangan, dan melalui kejayaan Islam, yang kita nikmati hari ini di Makassar. 

Dan mungkin begitulah sang "Macan Putih" seharusnya dikenang, tidak hanya pernah mengaum di medan sejarah, tetapi karena setelah ia tiada, gema suaranya masih terdengar jauh dari Tallo, menyeberangi laut, ke Ternate hingga ke lubuk hati orang-orang seperti saya.

 

"Terima kasih, Karaengku 🙏"

(REDAKTUR BUDAYA BIRKATV NEWS | UNEX)