Di sebuah siang di pertengahan Oktober 2026 Masehi, semilir angin yang bertiup dari Selat Makassar datang membelai. Saya duduk di serambi atas Benteng Rotterdam yang menghadap ke arah lautan, benteng berarsitektur kura-kura yang dahulunya sebelum diduduki VOC Belanda, bernama Benteng Ujung Pandang. Benteng yang dijaga Karaeng Karunrung dan pasukannya saat perang Makassar terjadi.
Saya tercenung lama, angin membelaiku lalu terus berlari mencumbui ranting dan dedaunan pohon, menciptakan simfoni di dalam dada. Pikiran saya menerawang jauh, jauh ke dalam lipatan-lipatan waktu. Abad ke-17 Masehi saat benteng ini telah diduduki serdadu VOC Belanda, dengan Cornelis J. Speelman sebagai jenderal perangnya.
Hari itu di bulan Oktober 1667 Masehi, dan beberapa hari-hari lain, Speelman sedang gusar dan gundah, banyak garnisun Eropa di Benteng Rotterdam ini sedang dijangkiti penyakit, tercatat 226 dari 557 personel tempur Eropa terbaring oleh penyakit dan luka-luka akibat perang (KA 1157i:442r, THAP halaman 140).
Benteng Sombaopu belum ditaklukkan, Hasanuddin sebagai Sultan Gowa-Tallo dan armada besar serta ribuan pasukan berani matinya masih begitu kuat. Di antara beberapa nama yang sangat memusingkan Speelman, ada satu sosok kepala batu yang sangat kasar dan menjengkelkan, sebab sangat cerdik dan pandai, ahli strategi, dan terutama susah dibunuh. Tubuhnya kebal oleh peluru bedil senapan juga irisan keris atau tikaman tombak di medan laga.
Namanya adalah Karaeng Karunrung, Tumabbicara Butta kerajaan Gowa, anak dari Karaeng Pattingalloang, cucu dari Karaeng Matowayya sang pemberani. Sudah banyak laporan telik sandi yang masuk dan bertumpuk di mejanya. Semua mengabarkan bahwa Karaeng Karunrung dan pasukan tubarania yang bersamanya tetap mengobarkan perang di berbagai tempat.
Dicatat oleh Leonard Andaya dalam bukunya The Heritage of Arung Palakka, halaman 73, tentang kelicikan Karaeng Karunrung terhadap para pedagang, dilaporkan oleh juru tulis VOC Belanda:
“... Karaeng Karunrung biasa meminta semua barang dijual kepadanya dengan harga yang lebih rendah daripada saat barang itu dibeli. Tidak ada kapal yang berlabuh di bandar Makassar, siapa pun pemiliknya, tidak diizinkan meninggalkan bandar pelabuhan kecuali menjual setidaknya sepertiga dari total muatan kapal kepadanya. Dan jeleknya, Sultan Hasanuddin Somba ri Gowa memihaknya...” (KA 1137:961-969)
Catatan-catatan seperti inilah yang memperlihatkan betapa berdarah-darahnya VOC Belanda untuk ingin menguasai politik dagang Kerajaan Gowa-Tallo yang telah diformat terbuka kepada siapa saja yang ingin datang berdagang di Bandar Makassar sejak zaman Sultan Alauddin. Angin kembali berembus, menyapu helai-helai rambutku dari seberang laut.
Setelah perjanjian Bungaya yang terjadi pada 18 November tahun 1667, Leonard Andaya mencatat dalam bukunya pada halaman 129, bahwa Speelman sendiri lebih jauh mengatakan dalam pesannya kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia:
“... Kami masih begitu sedikit menaruh kepercayaan kepada pemerintahan Gowa di Makassar, seolah-olah kami masih tetap berperang (walaupun Gowa telah menandatangani Perjanjian Bungaya). Secara lahiriah mereka menunjukkan kepada kami segala kesopanan dan kasih sayang.” (Stapel 1922:191)
Speelman menggambarkan Karaeng Karunrung sebagai “Seorang yang hanya sedikit dapat dipercaya. Seorang yang sejak lama tidak menyukai kompeni, sangat angkuh dan agresif terhadap VOC Belanda...,” karena itu Speelman menganggap laporan Arung Palakka bahwa Karaeng Karunrung yang mendatanginya dan mencari solusi terbaik, adalah hanya tipu muslihat belaka...” (KA 1157a:327v, 330r, 339v).
Dari catatan ini, saya coba menarik garis cerita ke belakang, memahami latar belakang ikatan yang dalam antara sosok Arung Palakka yang memanfaatkan VOC Belanda untuk membebaskan Kerajaan Bone-Soppeng sebagai Kerajaan Palili (jajahan) dari Kerajaan Gowa yang sudah berlangsung selama 21 tahun - sejak perang di Pesamppe pada masa Sultan Gowa Malikussaid melawan Arung Awangpone La Tenriaji Tosenrima (saudara dari La Maderemmeng Sultan Muhammad Shaleh Matinroe ri Bukaka, Sultan Bone yang mencetus penghapusan perbudakan) - di satu sisi, dengan hubungan pribadi Arung Palakka dengan sosok Karaeng Karunrung di sisi lain sebagai “kakak” semasa kecil di Istana Tallo.
Ayahanda Karaeng Karunrung adalah Raja Tallo ke-8, Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang yang juga merupakan ayah angkat sekaligus guru dari Arung Palakka sendiri. I Mangkawani Daeng Talele, istri Arung Palakka yang menemaninya dalam suka dan duka adalah sepupu satu kali dari Karaeng Karunrung. sebab Daeng Talele adalah anak dari bibi kandung, sekaligus mantan istri Karaeng Karunrung sendiri di masa muda, yang kemudian diperistri oleh Arung Palakka.
Ini menarik. Kenapa bisa begitu? Dari pembacaan saya, di zaman itu, perempuan dan laki-laki, anak dari Karaeng Ti'no (darah bangsawan tertinggi), posisinya sederajat. Masing-masing bisa menjadi raja atau arung. Sebagai contoh adalah raja Gowa pertama adalah seorang perempuan/tumanurung Bainea dan juga raja Tallo ke-4 adalah juga perempuan/Karaeng Bainea.
Gerakan emansipasi wanita yang baru digalakkan pada abad ke-20, sejatinya telah dipraktikkan di Kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar jauh beberapa abad sebelumnya.
Dalam studi khusus ini, anak Karaeng Ti'no seperti I Mangkawani Daeng Talele bebas memilih cerai dari siapa pun sekalipun suaminya adalah bangsawan tinggi atau raja. Lalu berhak menikah lagi dengan suami yang ia sukai.
Jadi sekali pun Karaeng Karunrung bertemu di medan laga sebagai musuh dari Arung Palakka, karena motif “perjuangan” mereka masing-masing yang berbeda. Sifat dan perlakuan Karaeng Karunrung di luar perang kepada Arung Palakka sangat berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan kepada VOC Belanda.
Yang sekali lagi menurut Speelman, Karaeng Karunrung adalah seorang yang kasar, agresif, liar dan tidak dapat dipercaya itu. Dalam kurun waktu hidupnya sebagai raja Bone, Arung Palakka tetap menjaga hubungan baik dengan Karaeng Karunrung. Itu bisa kita temukan dalam catatan panjang sejarah yang disusun oleh Leonard Andaya. Carilah di sana, maka Anda akan temukan apa yang telah saya temukan.
Di atas semuanya, harus saya katakan, sayang sekali, narasi dan stempel “laknat” terhadap sifat, sepak terjang dan perilaku hidup Karaeng Karunrung hari ini yang mewarnai diskusi para sarjana dan catatan buku-buku sejarah sebagian besar dipengaruhi oleh warisan dari pola pandang VOC Belanda.
Catatan negatif tentang Karaeng Karunrung itu juga ditunjang oleh tidak adanya tinggalan arkeologi purbakala berupa lokasi di mana ia dimakamkan, sekaligus cungkup makam model apa yang selayaknya mesti ada.
Sebab sebagai tokoh Wazir/Mangkubumi Gowa-Tallo yang merupakan salah satu pelaku utama dan pemeran penting terjadinya Perang Makassar yang legendaris itu. Jangankan menceritakan aspek sifat, perjuangan dan pengorbanannya berbeda dengan yang dideskripsikan VOC Belanda, keberadaan makamnya saja sepertinya tabu untuk diteliti dan diangkat ke permukaan sejarah untuk memperoleh penghormatan yang layak.
***
Dalam buku Syekh Yusuf Makassar – Riwayat dan Ajarannya karya Prof Tudjimah, seorang antropolog dan pakar filologi dari UI, menulis pada halaman 4,
“Buku harian raja-raja Gowa dan Tallo berjalan sampai tahun 1751, Buku lontara tersebut pada tahun 1845, waktu raja Tallo La Oddangriyu Karaeng Katangka Tumenanga ri Suwanga wafat, buku lontara ini disimpan oleh guru Jaka, orang kepercayaannya yang tinggal di kampung Melayu di Makassar. Pada tahun 1874, saat Guru Jaka wafat, maka buku lontara ini disimpan oleh raja Gowa di masa itu dan diwariskan kepada raja seterusnya. Dalam buku harian tersebut tercatat segala kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan raja dan keluarga raja, lengkap dengan tanggal dalam hitungan Masehi dan Hijriah dan ditulis dalam bahasa Makassar dengan huruf Arab. Di sini tercatat Karaeng Karunrung lahir pada 4 September tahun 1631 Masehi.
Menurut Dagboek der Vorsten van Gowa en Tallo dikeluarkan oleh Ligtvoet dalam BKI, 4e Volgreeks IV, 1880, halaman 90, bahwa Syekh Yusuf dilahirkan pada tahun 1626.”
Kedua tokoh besar ini, hidup di masa yang sama, juga berasal kampung halaman yang sama, hanya jalan sejarah masing-masing tokoh mengikuti garis takdir Allah Ta’ala yang berbeda. Yang pertama di kerajaan Gowa sedang Syekh Yusuf di Kerajaan Banten.
Prof Tudjimah menulis dalam bukunya tentang Syekh Yusuf, pada halaman 111, bahwa;
“Menurut Sdr. Abu Hamid S.S pakar sejarah dan filologi Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, kumpulan naskah manuskrip (salah satunya adalah surat Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung) awalnya adalah milik Daengta Kalia, seorang Qadi di Gowa, yang diberikan kepada bapak Prof. Buya Hamka pada tahun 1955 (untuk penelitian). Pada saat ini kumpulan naskah tersebut tersimpan di Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta. Kertasnya sudah banyak berlubang-lubang dan retak karena dimakan usia. Sehingga tidak mungkin bekerja dengan kumpulan tersebut. Oleh Koninklijk Instituut voor Taal-Lan-en Volkenkunde di Leiden, disediakan dana untuk menulis kembali. Ini dikerjakan oleh Sdr. Achjarnis S.S., lulusan sastra Arab UI tahun 1971. Mikrofilm dari kumpulan naskah berbahasa Arab ini disimpan di Leiden, sedang foto kopinya diserahkan kepada Museum Pusat Jakarta. Selesai diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada 1 Maret 1975.”
Adapun naskah surat kepada Karaeng Karunrung (folio 116-123) yang ditulis oleh Syekh Yusuf itu terjadi pada masa beliau sedang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Banten di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada permulaan bulan Rajab tahun 1084 Hijriah / 1673 Masehi. Inilah hasil terjemahnya :
“Inilah surat yang ditulis oleh Syekh Haji Yusuf al-Taj Qaddasallahu Sirruh Kepada Sultan Wazir Karaeng Karunrung.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan shalawat atas Sayidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Ke hadapan yang mulia, tuan kami yang alim, yang arif, yang sempurna wali akhlak, dan contoh yang diridhai, yang berada di kerajaan zamannya, yang menjadi contoh, bersih dalam makrifat, dan kepercayaannya menjadi contoh mutlak, memegang teguh syariat yang didukung oleh batin hakikat, yang berjalan atas jalan yang benar, yang memegang teguh tali hubungan dengan Allah, raja dari semua kerajaan, seperti purnama di Kerajaan Selon, penguasa penuh terhadap yang khusus dan yang umum, pusat para sultan yang mulia, dan pemimpin tentara kerajaan dalam contoh keikhlasan, keturunan orang besar, keturunan khusus dari raja perkasa, kiblat khawwas (Orang-orang khusus-Nya dalam terminologi Sufi), Ka‘bah bagi tokoh-tokoh utama dari hamba-Nya, sumber pendapat, orang Sholih, pelindung orang fakir dan miskin di antara makhluk Allah, yang berakhlak dengan pekerti yang baik, yang berbuat baik terhadap yang khusus dan yang umum, yang menghadap kepada Tuhan siang dan malam dengan berkah penghulu manusia, pengikut Rasulullah SAW lahir dan batin, musafir dan yang tinggal menetap dalam bumi syariat sebagai keberanian Musa, atau jika berada di laut hakikat, sebagai Khaidir yang membawa cahaya bagi orang-orang yang mempunyai keutamaan, kutub jiwa orang mulia, pemimpin syariat dan hakikat, sumber makrifat dan hakikat, orang yang cerdas, yang memiliki kesempurnaan yang tinggi, sahaya Tuhan untuk makhluk-Nya, tidak ada bandingannya, penglihatan mutlak dari kedua matanya, yang berbahagia di dua negeri (dunia dan akhirat). Yang di maksud itu adalah tuan kami yang mulia Karaeng Karunrung, Abdul Hamid, semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya dan menambah semarak kekuasaannya.” (paragraf 1)
Angin bertiup mengisi pori-pori kulit saya hingga penuh, dedaunan di ranting dan dahan pohon ikut menari, seperti nafas saya yang serasa ikut terkesima membaca awal surat Syekh Yusuf Tuanta Salama di atas.
Apa yang bisa kita temukan?
Syekh Yusuf seorang Waliyullah di zamannya menulis dengan rinci sifat pribadi Karaeng Karunrung, tentunya bukanlah dimaksudkan hanya untuk bahasa yang hiperbola yang mengandung sanjungan menjilat nan kosong, bukan?
Mukadimah surat yang ditulis pada masa Syekh Yusuf sebagai mufti Kerajaan Banten setelah kembali dari petualangan menuntut ilmunya yang panjang di jazirah arab. Saat itu, Syekh Yusuf telah bergelar Abul Mahasin (bapaknya kebaikan) juga Tajul Khalwatiyah ( pemilik mahkota tarekat Khalwatiyah) oleh salah satu guru agungnya Syekh Abu Barakat Ayub Al-Quraisy di Syuriah.
Saat Syekh Yusuf menulis surat ini, beliau telah mewarisi dan menjadi mursyid dari 16 silsilah tarekat yang beragam sanad ilmu dan jalur guru. Saat Syekh Yusuf menulis surat ini, beliau telah diakui secara ramai oleh sekian ulama besar di dunia Islam saat itu sebagai seorang ulama yang ahli ilmu zahir maupun batin yang mumpuni dengan banyaknya murid dari berbagai kelas sosial dan suku bangsa, beliau adalah ulama ahli karomah sebagai kekasih Allah Ta’ala yang masyhur di zamannya.
Maka patutkah secara adab dan ilmu, seseorang seperti Syekh Yusuf dengan kapasitas serta integritasnya menulis pujian kepada seseorang hanya sebagai bentuk ungkapan hiperbola tanpa dasar fakta yang beliau ketahui?
Tentu saja hati nurani kita tidak akan membolehkan pikiran liar seperti itu merasuk dan menciptakan prasangka yang buruk. Dalam kitab klasik Kashful Mahjub karya Imam Ali Al-Hujwiri ataukah dalam kitab Ar-Risalah al-qusairiyah karya imam Abdul karim Al-Qusairy abad ke-11 Masehi, tersebut secara lengkap ciri khas dari sifat, perilaku dan pembawaan pribadi dari para kekasih-kekasih Allah Ta’ala.
Di antaranya mereka para Waliyullah itu, perilaku zahir dan batin mereka, selalu bersama dan diliputi oleh Allah Ta’ala di setiap masa, di setiap keadaan, pun di segala tempat di mana mereka berada. Itu semua bagian dari karunia penjagaan Allah Ta’ala kepada para kekasih-kekasih-Nya.
Ketika Syekh Yusuf menulis bahwa Karaeng Karunrung itu adalah orang yang Sholih, memiliki budi pekerti yang baik, yang memiliki keberanian laiknya Nabi Musa AS, dan ibarat Nabi Khaidir AS yang membawa cahaya hakikat, sebagai kutub bagi orang-orang yang memiliki kemuliaan..., maka ini adalah sebuah pengumuman di mana Syekh Yusuf menggunakan otoritas dalam keilmuan spiritual keislamannya dan bertindak sebagai saksi di hadapan Allah Ta’ala akan siapa Karaeng Karunrung sejatinya.
Syekh Yusuf menulis dalam tulisan panjang bukannya tanpa maksud, para Waliyullah ahli karomah seperti beliau itu firasatnya sangat tajam, seperti beliau seakan telah diberi tahu, ratusan tahun setelah kematian Karaeng Karunrung, namanya akan mengalami “pembusukan “karakter, kuburnya sengaja “dihilangkan“keberadaannya. Begitu banyak berkembang narasi sejarah yang dipupuk dengan cara-cara mengambinghitamkan sosoknya, hanya memandang dengan satu mata yang dikatupkan. Namun manuskrip surat Waliyullah Syekh Yusuf abadi selama 400 tahun, sebagai bukti saksi sejarah sezaman, bahwa Karaeng Karunrung adalah kelas manusia seperti apa.
Narasi yang paling jahat adalah bahwa Karaeng Karunrung adalah sosok yang harus bertanggung jawab pada kerja paksa 10.000 lebih rakyat Bone yang dibawa ke Gowa untuk membangun parit dari Sungai Garassi hingga ke Benteng Ujung Tanah.
Karaeng Karunrung saat itu hanyalah seorang Pabiccara Butta Gowa yang baru dilantik menggantikan Karaeng Sumanna pasca diambil alihnya benteng Panakkukang oleh VOC Belanda pada 12 Juni 1660 Masehi.
Apakah Anda pikir keputusan strategis demi kelangsungan keamanan kerajaan seperti “penggalian parit” itu begitu sederhana dan cukup diputuskan oleh Karaeng Karunrung seorang?, lalu siapa penguasa utama saat itu?, siapa para penasihat kerajaan Bate Salapang yang menjabat saat keputusan itu dibuat?
Siapa orang Portugis/Inggris yang menjadi sekutu Gowa saat itu yang mengusulkan soal pembuatan parit mengelilingi benteng abad ke-17 Masehi seperti model parit di benteng Eropa?
Berapa kedalaman parit, berapa lebarnya dan berapa kilometer panjangnya dari Sungai Garassi ke Benteng Ujung Tanah, yang mana kontur tanahnya adalah resapan air (di pinggir laut) demi untuk mengisolasi benteng Panakkukang?
Apakah 10.000 lebih pekerja cukup memadai dengan intensitas waktu yang sangat terbatas, padahal sewaktu-waktu VOC Belanda bisa menyerang?
Jika itu adalah strategi pertahanan mutlak kerajaan, Kenapa Sultan Hasanuddin raja Gowa dan para pembesar bangsawan lain serta rakyat Gowa umumnya saat itu tidak ikut turun tangan gotong-royong menggali parit, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW saat ikut menggali parit bersama kaum Muhajirin dan Ansar sebelum Perang Handaq di Madinah?
Bagaimana dengan pengawasan pekerja, apakah Anda pikir Karaeng Karunrung sendirian mampu setiap detik mengawasi dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kezaliman “mandor lapangan” dalam proyek parit sepanjang itu?, di mana ayah Arung Palakka akhirnya terbunuh akibat membela rakyat Bone yang menderita karena pekerjaan penggalian parit, dan selanjutnya, membuat Arung Palakka berikrar, Bone-Soppeng harus merdeka dari Gowa setelah 21 tahun jadi kerajaan Palili tanpa satu pun gejolak terjadi di tahun-tahun sebelumnya?
Jika saya dan yang lain setelah berapa ratus tahun kemudian mampu memunculkan pertanyaan-pertanyaan ini, apakah Anda pikir Waliyullah Syekh Yusuf yang diberkati-Nya tidak tahu akan hal-hal semacam ini, yang mana pada akhirnya beliau memilih tetap di Banten dan cukup mengirim muridnya, Syekh Abu Al-Fath Abdul Bashir Al-Darir Tuang Rappang untuk mengajar ilmu tarekat Khalwatiyah atas namanya atau hanya memilih berbalas surat dan bukan kembali ke Gowa semasa hidup?
Hal-hal ini sebagian tersirat dalam lanjutkan surat beliau kepada Karaeng Karunrung pada halaman 158 :
“Sesudah mengucapkan salam, rahmat, dan berkah Allah Ta’ala kepada tuan, makrifat dan ridha-Nya bagi tuan kami, tuan kami yang masyhur, lalu salam kepada orang-orang yang tuan kehendaki, agar benar-benar sampai kepada saudara seagama.
Tuan kami yang mempunyai kekuasaan yang besar. Hati kami telah tertarik kepada tuan, dan Allah Ta’ala mengetahui akan hal itu. Kami mengharap kepada Allah Ta’ala supaya kami dapat bertemu dengan yang mulia. Kami rindu sekali untuk bertemu dengan tuan. Tetapi Allah Yang Maha Suci belum mengizinkan pertemuan untuk membicarakan perkara ini, sehingga tidak ada jalan bagi kami kecuali agar tuan tetap berada, di mana tuan menetap, demikian pula hambamu yang fakir ini lagi rendah.”
Syekh Yusuf dengan lugas menulis, “Hati kami telah tertarik/suka kepada tuan, dan Allah Ta’ala tahu akan hal itu”, ketertarikan Syekh Yusuf kepada pribadi Karaeng Karunrung bisa kita baca dalam dua versi.
Versi pertama adalah sebagaimana dalam buku “Syekh Yusuf Makassar, Seorang Ulama Sufi dan Pejuang” karya Abu Hamid dicatat:
“bahwa saat Syekh Yusuf dilahirkan tahun 1626 Masehi, beliau dilahirkan di Balla Lompoa di kampung Sinassara-Tallo (Daerah Jalan Dato Ribandang hari ini). Ibu dari Syekh Yusuf bernama Siti Aminah Daeng Kunjung, anak dari Gallarang Moncong Loe. Yang kemudian setelah habis masa iddah lalu diperistri oleh raja Gowa saat itu (tahun 1626 saat Syekh Yusuf dilahirkan, raja Gowa yang berkuasa adalah Sultan Alauddin).
Toponimi nama Kampung Sinassara/cahaya yang memancar, juga ada hubungannya dengan Syekh Yusuf, Syahdan dikisahkan dalam lontara, saat Syekh Yusuf lahir, cahaya berpendaran dari rumah tempat beliau dilahirkan di Tallo, yang cahayanya dapat disaksikan oleh Karaenga dan penduduk di Gowa.”
Pada Tahun 1631 Masehi, saat Syekh Yusuf berumur lima tahun, Di Istana Raja Tallo ke-6, I Malingkan Daeng Manyonri Karaeng Matowayya Di Bontoala, lahirlah seorang cucu laki-lakinya yang diberi nama Karaeng Karunrung, anak dari Karaeng Pattingalloang. Karaeng Pattingalloang kelak menjadi Raja Tallo Ke-8 setelah ayah dan kakaknya wafat. Mendampingi Sultan Malikussaid Raja Gowa yang bertakhta sepeninggal Sultan Alauddin.
Masa kecil Syekh Yusuf aktif dalam pembelajaran kepada beberapa ulama besar kerajaan di Bontoala, salah satu gurunya yang tercatat adalah Sayyid Allamah Thohir Ba’alawi bin Abdullah Al-Quraisy Tuang ri Bontoala dari Mekkah yang mengajarkan ilmu bahasa Arab (Nahwu & Syaraf), Mantiq, Fiqh hingga Tauhid.
Di usia muda di Bontoala, Syekh Yusuf tentunya dalam majelis ilmu telah bergaul akrab dengan Karaeng Karunrung, Sitti Daeng Nisanga (anak kandung perempuan Sultan Alauddin, yang kelak menjadi istri pertama Syekh Yusuf sebelum berangkat meninggalkan Gowa-Tallo di tahun 1644 Masehi untuk memperdalam ilmu agama ke jazirah Arab), dan para anak-anak bangsawan lain.
Di masa ini, Syekh Yusuf tentunya telah mengenal baik pribadi Karaeng Karunrung yang cerdas dan pemberani, itulah sebabnya Syekh Yusuf menulis, “kami rindu sekali bertemu dengan tuan.”
Sifat rindu tidak mungkin muncul di dalam hati anak manusia, andaikata tidak ada interaksi saling mengenal dan memiliki ikatan batin sebelumnya yang intens dan kuat. Hingga rasa suka dan rindu ini membuat Syekh Yusuf memanjatkan doa, “kami berharap kepada Allahu Ta’ala, supaya kami dapat bertemu dengan yang mulia”
Di sini kita temukan kedalaman ilmu dan kehati-hatian Syekh Yusuf dalam Musyahadah/penyaksian kepada-Nya. Hal yang sepele seperti rindu dan ingin bertemu dengan manusia saja beliau tetap bergantung kepada-Nya.
Ketika Syekh Yusuf menulis, “Tetapi Allah Yang Maha Suci belum mengizinkan untuk membicarakan perkara ini, hingga tidak ada jalan bagi kami kecuali agar tuan tetap berada, di mana tuan menetap, demikian pula hambamu yang fakir ini lagi rendah”, adalah buah dari kesadaran mutlak Syekh Yusuf menerima dengan lapang dada secara utuh takdir baik sekaligus takdir buruk dari-Nya.
Pada bagian ini saya menemukan bahwa versi kedua hubungan dan ketertarikan Syekh Yusuf dengan Karaeng Karunrung adalah pada masa surat ini ditulis 1673 Masehi. Saat kedua tokoh ini telah berada di puncak keemasan masing-masing. Syekh Yusuf sebagai ulama besar sekaligus mufti kerajaan di Banten. Sedang Karaeng Karunrung sebagai Mangkubumi di Kerajaan Gowa.
Syekh Yusuf tetap mengedepankan adab tata krama yang luar biasa untuk kita contohi, sekalipun Karaeng Karunrung dalam pengawasan penuh VOC Belanda. Tahun 1673 saat surat ditulis, adalah waktu yang belum lama dari akhir Perang Makassar, di mana Benteng Sombaopu yang megah akhirnya runtuh pada tahun 1669 Masehi, banyak bangsawan besar kerajaan Gowa-Tallo eksodus ke mana-mana untuk tetap melanjutkan konfrontasi dengan VOC Belanda. Yang bertakhta menjadi raja di Gowa adalah Sultan Amir Hamzah memerintah singkat 1669-1674 Masehi, anak Sultan Hasanuddin yang berumur 13 tahun saat naik tahta.
Dengan berbagai latar belakang itu, tak memungkinkan terjadinya pertemuan secara langsung antara Syekh Yusuf dengan Karaeng Karunrung untuk melepas kangen dan berdiskusi soal ilmu spiritual.
Sekali pun begitu, Karaeng Karunrung tidak melupakan Syekh Yusuf. Sebagai kerabat dekat, beliau mengirimkan hadiah juga uang melalui kurir dari orang Mandar yang kita bisa baca pada lanjutan surat beliau Qaddasallahu Sirruh :
“Dan bagi tuan kemuliaan atas hambamu yang rendah. Saya mengharapkan pengetahuan yang ada pada yang mulia. Semua yang tuan kirimkan kepada hambamu yang rendah ini melalui Kairin (nama kurir) dan rakyat Mandar, telah sampai kecuali dirham yang dibawa oleh Haji Abdul Rashid Tawulisa yang tidak sampai kepada hambamu, kendati demikian, pahalanya telah sampai pada tuan karena kebajikan pada niat tuan, insya Allah Ta’ala.”
Dan walaupun uang dirham belum sampai ke tangan Syekh Yusuf dari Karaeng Karunrung yang dititipkan kepada seorang haji, namun Syekh Yusuf tetap berterima kasih. Sebuah contoh adab yang sangat baik untuk kita ikuti.
Di abad ke-17 ini, saya menemukan bahwa titel “haji” di depan nama seseorang sudah menjadi budaya tata krama kehormatan para petinggi kerajaan di nusantara. Jadi salah atau keliru jika ada sarjana yang mengatakan bahwa itu adalah warisan dari kolonialisme Belanda.
Syekh Yusuf selanjutnya menulis :
“Kemudian, wahai tuanku, bagaimana dengan pertemuan? Mengenai keadaan hambamu yang rendah tidak sampai ke hadapan tuanku untuk mengabdi dan minta berkah, karena halangan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala. Hikmatnya adalah dari Allah Ta’ala.
Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya, dan kebaikan yang dipilih oleh karena Allah Ta’ala. Pencipta segala sesuatu, sehingga tidak ada kebaikan dalam maksiat menurut syariat yang mulia. Tidak ada kebaikan kecuali dengan takdir Ilahi, dan qadar Rabbani. Ridha terhadap qadar-Nya adalah wajib, meskipun dalam maksiat. Maka ketahuilah itu...!”
Dengan contoh kasus “belum bisa bertemu langsung”, Syekh Yusuf menjadikannya sebagai pintu masuk untuk menjelaskan hakikat seorang hamba mendudukkan pemahaman tentang qada dan qadar-Nya. Bahwa ridha/menerima dengan hati yang lapang atas semua pengaturan Allah, apakah baik ataukah buruk, itu sebuah hal yang wajib bagi seorang muslim sejati.
Apakah maqam spiritual pada fase ini mudah?, tentu tidak saudara, mudah diucapkan namun saat masing-masing kita mengalami cobaan langsung, beratnya hati untuk menerima tidak semudah dan semanis iklan di siaran televisi. Syekh Yusuf lanjut menulis :
“Sesungguhnya dalam kedudukan ini adalah suatu tingkat keberanian, di mana tidak seorang pun yang akan selamat mencapainya kecuali orang-orang yang perkasa, yang dapat menghimpun syariat secara lahiriah dan hakikat secara batin. Mereka itulah orang yang secara lahir menjalankan tarekat (jalan) Muhammad dan syariatnya. Maka siapa yang berpegang teguh dengan keduanya selamatlah ia di dunia dan akhirat.”
Penjelasan Syekh Yusuf di atas adalah mutiara rahasia dan kristalisasi dari kitab suci Alquran surat Al-Baqarah ayat 45 : “Dan jadikanlah penolong bagimu pada kesabaran dan sholat...” namun ini tidak mudah, butuh keberanian dan keperkasaan untuk menaklukkan ego diri dan kemalasan. Butuh kesungguhan hati yang berkesinambungan untuk bisa meraihnya, seorang yang bisa melakukan ini, Syekh Yusuf menyebutnya perkasa.
Sabar adalah perilaku hati (hakikat), sholat adalah perilaku lahir (syariat) seorang hamba kepada-Nya. Keduanya harus jalan beriringan. Tidak boleh tidak, karena Nabi SAW yang mencontohkan kepada kita umatnya. Syekh Yusuf begitu ketat dan konsentrasi penuh dalam mengupas akan hal ini, beberapa poin penting tulisan beliau tentang ini :
“Orang-orang yang arif telah sepakat bahwa semua syariat tanpa hakikat adalah batil dan semua hakikat tanpa syariat juga batil...
Dengan demikian, tujuan paling utama dan sasaran terakhir adalah cinta Allah terhadap hamba-Nya. Siapa yang paham akan hakikat firman Tuhan dalam ayat: "Jika kamu mencintai Tuhan, maka ikutilah saya, niscaya Tuhan akan mencintai kamu dan akan memaafkan dosa-dosa kamu, karena Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang." Siapa yang mencintai Allah Ta’ala maka ia menjadi pengikut Nabi-Nya, dan siapa yang mencintai Nabi maka ia adalah kesayangan Tuhan. Maka perkara yang satu itu merupakan syarat untuk cinta...
Maka mengertilah kita dari ayat ini bahwa siapa yang tidak mengikuti Nabi SAW lahir dan batin, maka ia tidak akan dicintai oleh Allah Ta’ala, meskipun ilmu dan amalnya serta kebijaksanaannya telah mencapai puncak yang tertinggi...
Siapa yang meninggalkan sholat, ia termasuk golongan orang yang sengsara, ia tidak akan disentuh oleh kebajikan, jauh dari kebahagiaan. Ia termasuk sejahat-jahat golongan yang sengsara. Orang-orang yang paling durhaka terhadap Tuhan adalah orang yang meninggalkan sholat. Dan maksiat yang paling dekat kepada kekufuran ialah meninggalkan sholat, karena orang yang meninggalkan sholat tidak akan dicintai oleh Allah Ta’ala, karena ia tidak mengikuti jejak Nabi SAW meskipun ia seorang arif dan berilmu.
Seseorang tidak akan sampai kepada Allah Ta’ala kecuali dengan perantaraan Nabi SAW. Dan sebagai tanda sampai pada Tuhan, ia harus mengikuti Nabi SAW makhluk yang paling mulia dan ia tidak meninggalkan sholat: seseorang yang meninggalkan sholat keadaannya seperti ia berkata: "Saya lebih mulia dari Nabi SAW, semoga kita terlindung dari hal itu.”
Dalam hubungan Ubudiyah seorang hamba yang “merasa” dekat kepada Allah Ta’ala, kecenderungannya adalah mudah “tergelincir” dalam persoalan syariat, ini tidak hanya berlaku kepada masa Karaeng Karunrung, sosok yang dinasihati Syekh Yusuf, tetapi juga sekarang maupun nanti. Mereka menganggap persoalan syariat adalah “kulit” saja dalam Islam.
Kaum sufi yang berpandangan hululiyyah / yang meyakini Allah bersemayam dalam jasadnya, tidak lagi melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam lagi sebagaimana syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW. Makanya Syekh Yusuf mengunci argumentasinya dengan, setinggi tingginya ma’rifat seseorang hamba, tidaklah mungkin lebih jago, lebih pandai, lebih arif, lebih dekat, lebih disayang dan lebih mulia dari Rasulullah SAW di hadapan Allah Ta’ala, bukan?
Jika kita tidak menjadikan Rasulullah SAW menjadi panutan di jalan ini, terus mau ikut siapa?
Dengan mengikuti Rasulullah SAW akan menyebabkan turunnya pammase/kasih sayang dan cinta Allah Ta’ala kepada hamba tersebut. Kita tidak bisa cukup mengurut dada dan meneteskan sekian mangkok air mata lantas mengatakan pada diri “sabarlah hati, janganlah kau kotori, hari esok akan lebih baik dari sekarang, dan akan indah pada waktunya” tanpa dibarengi melaksanakan sholat, sayangku.
Karena sabar dan sholat harus dijalankan beriringan saat menghadapi musibah, kehilangan atau cobaan hidup yang rasa-rasanya begitu beratnya hingga ingin sekali kita meminum cairan Baigon. Sayangku, Janji Allah dan Rasul-Nya adalah pasti. Maka mari kita berangkat dengan semangat baru. Bismillah.
Syekh Yusuf menulis :
Wahai tuanku, mati itu dekat, sedang umur itu pendek, amal itu sedikit, dan ilmu itu tidak banyak, sedang dosa itu semakin bertambah. Maka bagaimana orang dapat ikhlas?
Dan tidak lain kewajiban kita ialah kembali kepada Allah dengan tobat lahir dan batin, minta ampun, banyak berzikir baik dalam hati atau keras, mengutamakan akhirat daripada dunia, (dan selalu) introspeksi diri (murakabah)...”
Ini adalah rumus spiritual yang dibagikan Syekh Yusuf yang sangat penting bagi kita, sekali pun nasihat ini tertuju kepada Karaeng Karunrung, bahwa dengan langkah-langkah inilah seorang hamba akan mendapatkan kedekatan yang paripurna di sisi Allah Ta’ala.
Di bagian yang lain Syekh Yusuf melanjutkan nasihat yang tak kalah penting, bahwa seorang hamba-Nya yang paripurna, adalah dia yang selalu menyeimbangkan dalam hatinya dan perbuatannya, akan sifat Khauf (Takut akan ancaman siksa abadi bagi mereka yang durhaka dengan disengaja kepada-Nya) dan sifat Roja' (Tidak putus asa dengan segala rahmat dan karunia-Nya yang tak terbatas).
kedua sifat surgawi ini sangat penting dimiliki oleh seorang hamba yang sungguh-sungguh bercita-cita menjadi kekasih-Nya. Dengan panjang lebar Syekh Yusuf menjelaskan nasihat di bagian ini kurang lebih 2 lembar halaman surat.
Saya ingin membawanya ke sini, tapi saya ingin menantang Anda, jika sungguh-sungguh ingin belajar kedalaman dari ajaran tasawuf Syekh Yusuf, kenapa Anda tidak berniat menyisihkan sedikit rupiah, mungkin bukunya hanya seharga 100 ribu, saudara. Namun di sini akan dilihat kesungguhan orang yang sungguh-sungguh ingin belajar, bukan?
Pada halaman 192 dalam buku Prof Tudjimah, Syekh Yusuf menulis di akhir surat :
“...Sebenarnya yang mendorong saya untuk menulis surat ini ialah Haji Kari Pasaa dan Haji Raja. Keduanya telah kami berangkatkan dengan kapal bersama saudara dan kesayangan tuan, yaitu Abul Fath Sultan Banten. Kapal itu insya Allah Taala akan sampai ke Bandar Mekah. Kapal itu berangkat pada akhir Jumadil Awal tahun 1084 hijrah Nabi, selawat yang mulia dan salam bagi Nabi.
Saudara kita Kari Pasaa yang tersebut (semoga Allah menyelamatkannya) dan mengantarkannya ke Mekah yang mulia, dialah yang menyuruh kami untuk menulis surat ke hadapan yang mulia untuk memberi tahu keberangkatan haji ke tanah suci. Wassalam.
Wahai tuan kami, jangan memarahi kami karena kekurangan kami dan jangan melihat kami, karena hamba pada adatnya memang sangat kurang dalam segala hal. Dari hambamu yang fakir ini, penulis surat (semoga tuanku memaafkannya); dua keranjang gula putih dan sekantong merica sebagai hadiah tanda kecintaan.
Terimalah dengan hormat, dan janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan memberi, tidak menurut ukuran yang diberi.
Semoga Allah mengakhiri kami dan tuan dengan kebaikan dan memberi kita keteguhan iman dan memasukkan kita di antara golongan La ilaha illallah sebelum dan sesudah meninggal. Amin ya rabb al-alamin.
Wahai tuan kami, semangat hidup kami dan kekasih kami. Sesungguhnya hambamu yang fakir dan rendah ini ingin menceritakan pada tuan suatu cerita. Hambamu mengira bahwa cerita ini tidak mempunyai arti apa-apa, yaitu bahwa hambamu, penulis ini pernah berada di majelis saudara tuan, Sultan Banten.
Beliau pernah bersabda kepadaku dengan rahasia: "Wahai Syekh Yusuf, apakah mungkin tuan mengirim surat kepada saudara kita Karaeng Karunrung (semoga Allah menjaganya), supaya beliau mengembalikan kepadaku keris anak Kyai Tambak dan pujangga kita dan bokor suasa kita, karena semua itu tidaklah saya berikan kepadanya." Tetapi semua yang tersebut itu ada pada saudara kami Karaeng Karunrung." Adanya barang itu padanya merupakan penghormatan dari kami kepadanya sesuai dengan adat kebiasaan negara kita.
Mengenai pedang tersebut, saudara tuan Pangeran Arya Sangtikar ketika pergi naik haji (semoga Allah memberi rahmat kepadanya) telah mewasiatkan supaya meminta pedang itu dari tuan, dan beliau berkata kepadaku: “Kami memberinya pedang itu.” Demikian kata saudara tuan, Maulana Sultan Banten Abul Fath (semoga Allah menyelamatkan dan menjaga beliau).
Maka janganlah tuan marah karena hambamu tidak ingat lagi hal itu karena malu. Pikirlah tuanku, karena soal itu hanya perkara kecil dan bukan hal yang sulit bagi tuan. Dan Allah lebih tahu, ya tuanku.
Saya mohon dari tuanku sepotong emas, sebuah cincin yang sangat diperlukan atau zamrud biru jika ada pada tuan, jika tidak ada maka yakut merah yang biasa disebut mirah. Semoga Allah membalas tuan dengan banyak kebajikan dan kebahagiaan yang sempurna.
Ditulis pada awal bulan Rajab yang mulia tahun 1084 Hijriah, dan selesai dikutip isinya pada malam Jumat 15 Zulhijah yang mulia tahun 1145 hijrah Nabi SAW.
Kitab yang bernama Safinat al-Najah, yang diambil manfaatnya dari syekh-syekh yang suci, karangan syekh yang alim, yang tahu tentang kebaikan, laut kepahaman, kutb al-imam, yang mempunyai berkat khusus dan umum, orang yang mewarisi peninggalan Muhammad dan khalifahnya, yang mempersatukan ilmu lahiriah dan batiniah, yang berperangai dengan akhlak terpuji dan terbaik, tuanku Maulana syekh Abul Mahasin Yusuf al-Taj al-Khalwati al-Makasari (semoga Allah memberi rahmat kepadanya dan kepada kami). Amin ya rabb al-alamin, wahai penolong yang terbaik.
Selesai
Kemudian salawat dan salam atas sayidina Muhammad SAW dan keluarganya serta para sahabatnya.”
***
Matahari perlahan bergerak turun di balik garis cakrawala Selat Makassar, menyisakan bias jingga yang membasuh wajah saya dan dinding-dinding kokoh Benteng Rotterdam. Saya masih terpaku di serambi ini, menghela selinting tembakau lalu menghembuskan ke udara, membiarkan jemari meraba lembar-lembar catatan sejarah yang baru saja dibentangkan oleh waktu.
Empat ratus tahun telah berlalu sejak Syekh Yusuf dan Karaeng Karunrung mengukir takdir di atas panggung sejarah Nusantara. Satu berlayar di jalur ilmu spiritual tasawuf melintasi samudra hingga ke tanah pengasingan di Cape Town Afrika Selatan, sementara yang satu lagi memilih berdiri sebagai karang terjal begitu keras di bawah gempuran meriam kolonial Belanda.
Dari reruntuhan perang, di tengah kepulan mesiu dan propaganda VOC yang berusaha membusukkan nama besar para pejuang, selembar surat berhuruf Arab berbahasa Melayu-Arab dari Banten pada tahun 1673 Masehi itu tiba sebagai saksi sejati. Ia membuktikan bahwa persahabatan sejati para waliyullah dan kaum arif tidak pernah lekang oleh jarak dan waktu, tidak pula luntur oleh intrik kekuasaan.
Hari ini, ketika kita merayakan empat abad ketokohan Syekh Yusuf Tuanta Salama, warisan terbesar yang ditinggalkannya bukanlah hanya kisah kepahlawanan yang berhenti di museum-museum tua. Nasihat sufistik tentang keseimbangan antara syariat dan hakikat, perpaduan antara sifat ketakutan (khauf) dan pengharapan (roja'), serta keluhuran adab dalam merajut ukhuwah adalah kompas moral yang paling mendesak bagi bangsa kita hari ini juga seluruh dunia Islam.
Di tengah dunia modern yang kerap gamang kehilangan arah akibat modernisasi dan keserakahan kapitalisme yang tak kunjung berhenti, keteguhan prinsip para leluhur Nusantara ini mengajarkan kita cara merawat kewarasan batin.
Anging Mammiri' kupasang kembali bertiup kencang menggoyang rambut saya yang setengah kriwil, membawa serta debu-debu intan masa lalu untuk ditaburkan ke masa depan kita. Seperti ia berbisik pelan di antara batu-batu andesit penuh lumut Benteng Rotterdam dan ketulusan tangan-tangan yang merawat situs-situs sejarah di Katangka, Bontobiraeng Gowa, Banten juga Afrika.
Bahwa merawat ingatan kolektif, membersihkan nama-nama besar dari noda propaganda kolonial, dan merajut kembali serpihan shared heritage adalah bentuk nyata dari ikhtiar memperkokoh kebinekaan yang kita perjuangkan dengan berdarah-darah semenjak Indonesia merdeka.
Sebab kita semua tahu, ingatan tentang mereka yang tulus mencintai bangsa dan Tuhannya tidak akan pernah mati, ia senantiasa hidup, menginspirasi zaman, dan berdenyut dalam setiap napas keindonesiaan kita.
Anging Mammiri' kupasang
Pitujui tongtonganna
Tusaroa takka lupa…
Redaktur Budaya BIRKATV / HUSNI HAMISI
Tulisan ini dipersembahkan kepada daengku yang saya muliakan, Andi Nurhikmah Puang Cora dan Suaminya Karaeng Pele, yang dengan kebersihan hati dan telaten yang mempesona merawat situs peninggalan raja-raja di Bontobiraeng Gowa. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan daengku berdua dengan surga-Nya.
